Senin, 29 Oktober 2012

can't wait any longer

katakanlah malam ini aku sedikit melankolis, mungkin juga karena sedang kedatangan tamu bulanan, atau mungkin karena suasana malam, hampir tengah malam tepatnya, sunyi...sepi...

ya, INSOMNIA! akut!!! kebiasaan baru (kalau tidak mau disebut penyakit) setelah aku dan suami tinggal berjauhan beberapa bulan ini, hampir 10 bulan tepatnya. bisa tidur lewat dari jam 1 malam, malah lebih sering "terpaksa" tidur jam 3 subuh.

entah kenapa, kebiasaan bersamanya menjadi sebuah kebutuhan...lebay ya? tapi itu lah adanya...nyaman yang tidak bisa aku dapat dari sebuah kasur empuk sekalipun.

malam ini, air mata itu tumpah ruah, tak terbendung lagi, memaksa untuk dikeluarkan hingga kering.
belahan jiwaku di aceh sana mungkin sedang tertidur lelap, beristirahat sejenak dari rutinitas pekerjaan dan bersiap mencari nafkah keesokan harinya.

aku tau, kisahku mungkin tak serumit pasangan lain, yang berjauhan beda negara, hanya bisa bertemu beberapa bulan sekali, jarakku hanya terpisah pulau, jawa dan sumatera, antara bandung dan aceh, tapi ya Allah, berat rasanya.

setelah menikah, memang baru kali ini kita "terpisahkan", kemana pun ayah pergi aku selalu mau ikut, mendampinginya, karena itu pula yang membuatnya nyaman, satu tahun di bangka, dan satu tahun berikutnya di jambi, dengan sukarela dan suka cita aku mendampinginya.

aceh?kenapa tidak dengan aceh? banyak hal yang menjadi pertimbangan, untuk kami, khususnya untuk neisha. bukan aku tidak mau, jangan kan aceh, papua diujung sana pun aku mau ikut.
di bandung pula aku menempatkan diri sebagai anak yang ingin "menemani" ayahnya yang saat ini sendiri setelah di tinggal almarhum mamah. menemani masa tua papa, tentu seijin suami. antara kewajiban seorang istri dan bakti seorang anak.

inilah bagian dari perjuangan kita, entah sampai kapan, masih menghitung hari ini dan hari yang akan datang. ya memang 2 minggu, 1 bulan, paling lama 2 bulan sekali ayah datang...4 sampai 7 hari lamanya, tapi kadang "lelah" dengan rutinitasnya, sampai kapan?

ya rutinitas, rutinitas baru yang menyebalkan...
menjemput atau menunggu ayah datang tentu bagian cerita yang sangat menyenangkan, tetapi ketika waktu berlibur sudah hampir usai, malam sebelum ayah berangkat pun sudah berat rasanya, apalagi harus mengantarnya ke bandara.
mengantarnya ke bandara, rutinitas yang sudah enggan aku lakukan, berat, sangat berat, apalagi melihat neisha yang enggan lepas dari gendongan ayahnya, lalu menangis memanggil-manggil ayahnya yang makin lama jalan menjauh, hemmm pemandangan yang menyakitkan. rutinitas itu ku buang, aku tidak mau mengantarnya ke bandara, cukup mengecup keningnya saat ia meninggalkan rumah.

sakitku, sedihku tentu tak sebanding apa yang dirasakan suamiku.
perjalanan melelahkan hampir 1-2 bulan sekali untuk pulang ke bandung tentu bukan perkara mudah.
dari lhokseumawe aceh, ia berangkat menggunakan bus ke medan, dengan perjalanan hampir 8 jam. sampai di medan subuh, menunggu waktu flight dibandara, lalu ia melanjutkan perjalanan 2 jam lebih dengan menggunakan pesawat jam 8 pagi ke bandung...hampir 12 jam yang melelahkan...

itu hanya sebagian kecil perjuangannya.
di bandung aku masih dinyamankan dengan keberadaan keluarga, teman-teman, kota yang memang sudahku kenal semenjak dilahirkan. dia, disana berjuang sendiri memulai beradaptasi dengan lingkungan, teman-teman dan  ruang lingkup tanggung jawab pekerjaan baru.

tentang imam-ku inilah ku berdoa malam ini, selalu ku sampaikan rasa hormat, rasa trimakasih ku untuk semua pengorbanan dan keikhlasannya. betapa tidak, dia meninggalkan sejenak kenyamanannya dengan merantau demi mencari nafkah untuk anak dan istrinya, melawan rasa rindu, rasa takut, rasa gelisah.

aku tau, ia sering menyembunyikan kesedihannya saat merindukan kami, terutama merindukan anak kami, neisha. rasanya tak ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan waktu berharga bersama anak. ku tangkap nada bicaranya yang tiba-tiba meredup, ketika mendengar suara neisha "yayah, yayaaah" kata neisha..."duh, kangen bun, kangen neisha, kangen bunda"

dia pandai menyimpan rasa sedih, "takut bunda kepikiran" katanya...
sama halnya denganku sekarang, berusaha tegar, berusaha tidk terlihat sedih...

bisa bersama-sama lagi dengan suami dan anakku satu kota, satu atap, satu ranjang menjadi hal yang sangat mewah! ya, kemewahan yang mungkin orang lain sia-siakan, kemewahan yang tidak tergantikan oleh apapun.

2 minggu lagi aku akan bertemu dengannya, hanya satu minggu lamanya, ya rutinitas yang akan aku lakukan dengan ikhlas walau diakhiri dengan rutinitas yang menyebalkan, membiarkannya pergi lagi ke rantauan.

2 minggu, tapi terasa masih sangat lama...hari ini puncaknya, i cant wait any longer! rindu yang sudah memuncak.

harapan...harapan untuk bisa melewati perjuangan ini dengan lebih mudah...menanti kejutan-kejutan lain yang sedang dipersiapkan Allah...

kapok! satu kata yang secara kompak kita ucapkan saat malam itu...
"kapok, ga mau jauhan lagi, pindah dari aceh kita bareng lagi ya bun, insyaallah secepatnya, doain ayah ya bun" katanya

sekuat apapun ku mencoba tegar, mencoba kuat, aku boleh menangiskan?
mencoba tidur dan sedikit demi sedikit menghapus air mata yang kuharapakn bisa sedikit mengobati rasa rindu.

2 minggu lagi? i just cant wait any longer..


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar