Senin, 29 Oktober 2012

can't wait any longer

katakanlah malam ini aku sedikit melankolis, mungkin juga karena sedang kedatangan tamu bulanan, atau mungkin karena suasana malam, hampir tengah malam tepatnya, sunyi...sepi...

ya, INSOMNIA! akut!!! kebiasaan baru (kalau tidak mau disebut penyakit) setelah aku dan suami tinggal berjauhan beberapa bulan ini, hampir 10 bulan tepatnya. bisa tidur lewat dari jam 1 malam, malah lebih sering "terpaksa" tidur jam 3 subuh.

entah kenapa, kebiasaan bersamanya menjadi sebuah kebutuhan...lebay ya? tapi itu lah adanya...nyaman yang tidak bisa aku dapat dari sebuah kasur empuk sekalipun.

malam ini, air mata itu tumpah ruah, tak terbendung lagi, memaksa untuk dikeluarkan hingga kering.
belahan jiwaku di aceh sana mungkin sedang tertidur lelap, beristirahat sejenak dari rutinitas pekerjaan dan bersiap mencari nafkah keesokan harinya.

aku tau, kisahku mungkin tak serumit pasangan lain, yang berjauhan beda negara, hanya bisa bertemu beberapa bulan sekali, jarakku hanya terpisah pulau, jawa dan sumatera, antara bandung dan aceh, tapi ya Allah, berat rasanya.

setelah menikah, memang baru kali ini kita "terpisahkan", kemana pun ayah pergi aku selalu mau ikut, mendampinginya, karena itu pula yang membuatnya nyaman, satu tahun di bangka, dan satu tahun berikutnya di jambi, dengan sukarela dan suka cita aku mendampinginya.

aceh?kenapa tidak dengan aceh? banyak hal yang menjadi pertimbangan, untuk kami, khususnya untuk neisha. bukan aku tidak mau, jangan kan aceh, papua diujung sana pun aku mau ikut.
di bandung pula aku menempatkan diri sebagai anak yang ingin "menemani" ayahnya yang saat ini sendiri setelah di tinggal almarhum mamah. menemani masa tua papa, tentu seijin suami. antara kewajiban seorang istri dan bakti seorang anak.

inilah bagian dari perjuangan kita, entah sampai kapan, masih menghitung hari ini dan hari yang akan datang. ya memang 2 minggu, 1 bulan, paling lama 2 bulan sekali ayah datang...4 sampai 7 hari lamanya, tapi kadang "lelah" dengan rutinitasnya, sampai kapan?

ya rutinitas, rutinitas baru yang menyebalkan...
menjemput atau menunggu ayah datang tentu bagian cerita yang sangat menyenangkan, tetapi ketika waktu berlibur sudah hampir usai, malam sebelum ayah berangkat pun sudah berat rasanya, apalagi harus mengantarnya ke bandara.
mengantarnya ke bandara, rutinitas yang sudah enggan aku lakukan, berat, sangat berat, apalagi melihat neisha yang enggan lepas dari gendongan ayahnya, lalu menangis memanggil-manggil ayahnya yang makin lama jalan menjauh, hemmm pemandangan yang menyakitkan. rutinitas itu ku buang, aku tidak mau mengantarnya ke bandara, cukup mengecup keningnya saat ia meninggalkan rumah.

sakitku, sedihku tentu tak sebanding apa yang dirasakan suamiku.
perjalanan melelahkan hampir 1-2 bulan sekali untuk pulang ke bandung tentu bukan perkara mudah.
dari lhokseumawe aceh, ia berangkat menggunakan bus ke medan, dengan perjalanan hampir 8 jam. sampai di medan subuh, menunggu waktu flight dibandara, lalu ia melanjutkan perjalanan 2 jam lebih dengan menggunakan pesawat jam 8 pagi ke bandung...hampir 12 jam yang melelahkan...

itu hanya sebagian kecil perjuangannya.
di bandung aku masih dinyamankan dengan keberadaan keluarga, teman-teman, kota yang memang sudahku kenal semenjak dilahirkan. dia, disana berjuang sendiri memulai beradaptasi dengan lingkungan, teman-teman dan  ruang lingkup tanggung jawab pekerjaan baru.

tentang imam-ku inilah ku berdoa malam ini, selalu ku sampaikan rasa hormat, rasa trimakasih ku untuk semua pengorbanan dan keikhlasannya. betapa tidak, dia meninggalkan sejenak kenyamanannya dengan merantau demi mencari nafkah untuk anak dan istrinya, melawan rasa rindu, rasa takut, rasa gelisah.

aku tau, ia sering menyembunyikan kesedihannya saat merindukan kami, terutama merindukan anak kami, neisha. rasanya tak ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan waktu berharga bersama anak. ku tangkap nada bicaranya yang tiba-tiba meredup, ketika mendengar suara neisha "yayah, yayaaah" kata neisha..."duh, kangen bun, kangen neisha, kangen bunda"

dia pandai menyimpan rasa sedih, "takut bunda kepikiran" katanya...
sama halnya denganku sekarang, berusaha tegar, berusaha tidk terlihat sedih...

bisa bersama-sama lagi dengan suami dan anakku satu kota, satu atap, satu ranjang menjadi hal yang sangat mewah! ya, kemewahan yang mungkin orang lain sia-siakan, kemewahan yang tidak tergantikan oleh apapun.

2 minggu lagi aku akan bertemu dengannya, hanya satu minggu lamanya, ya rutinitas yang akan aku lakukan dengan ikhlas walau diakhiri dengan rutinitas yang menyebalkan, membiarkannya pergi lagi ke rantauan.

2 minggu, tapi terasa masih sangat lama...hari ini puncaknya, i cant wait any longer! rindu yang sudah memuncak.

harapan...harapan untuk bisa melewati perjuangan ini dengan lebih mudah...menanti kejutan-kejutan lain yang sedang dipersiapkan Allah...

kapok! satu kata yang secara kompak kita ucapkan saat malam itu...
"kapok, ga mau jauhan lagi, pindah dari aceh kita bareng lagi ya bun, insyaallah secepatnya, doain ayah ya bun" katanya

sekuat apapun ku mencoba tegar, mencoba kuat, aku boleh menangiskan?
mencoba tidur dan sedikit demi sedikit menghapus air mata yang kuharapakn bisa sedikit mengobati rasa rindu.

2 minggu lagi? i just cant wait any longer..


Felix Siauw: Aku Menemukan Islam

Sangat sedikit manusia yang menggunakan akalnya untuk menemukan Tuhannya dan jati dirinya. Padahal kalau mau jujur dan jernih berpikir siapapun akan menemukan kebenaran Islam. Pengalaman Felix Siauw (24 tahun) bisa menjadi pelajaran. Berikut kisahnya.
Jika kamu masih mempunyai banyak pertanyaan, maka kamu belum dikatakan beriman, Iman adalah percaya apa adanya, tanpa reserve”. Begitulah kira-kira pernyataan yang akan selalu aku ingat di dalam hidup ini.
Waktu itu aku masih seorang penganut Kristen Katolik. Di usiaku yang masih 12 tahun, banyak pertanyaan tentang kehidupan yang belum terjawab. Ada tiga pertanyaan yang paling besar yang muncul dalam benakku, yaitu darimana asal kehidupan ini, untuk apa adanya kehidupan ini, dan akan seperti apa akhir kehidupan ini. Lalu, “Kenapa tuhan pencipta kehidupan ini ada tiga, yakni ada tuhan bapa, tuhan putra dan roh kudus? Darimana asal tuhan bapa?”, atau “Mengapa tuhan bisa disalib dan dibunuh lalu mati, lalu bangkit lagi?” Aku diskusikan itu dengan orang tuaku atau dengan rohaniawan, tapi jawabannya mengambang dan tak memuaskan.
Ketidakpuasan itu lalu mendorongku untuk mencari jawaban langsung dari Alkitab yang katanya datang dari tuhan. Betapa terkejutnya aku, aku baru tahu jika 14 dari 27 surat di Injil perjanjian baru ternyata ditulis oleh manusia, yaitu Santo Paulus. Lebih terkejut lagi ketika mengetahui bahwa sisa kitab yang lainnya juga merupakan tulisan tangan manusia yang dibuat setelah wafatnya Yesus. Konsep trinitas yang menyatakan tuhan itu tiga dalam satu dan satu dalam tiga ternyata adalah hasil konggres di kota Nicea pada tahun 325 M.
Setelah mengetahui itu, kuputuskan bahwa agama yang kuanut tidaklah pantas untuk dipertahankan. Aku pun memutuskan untuk menjadi seorang yang tidak beragama, tetapi tetap percaya kepada Tuhan. Aku berkesimpulan bahwa semua agama tidak ada yang benar, karena sudah diselewengkan oleh penganutnya. Tanpa sadar waktu itu aku sudah menjadi manusia yang sinkretis dan pluralis.

Bertemu Ustad Muda
Waktu terus bergulir. Ketika aku kuliah di IPB memasuki semester ketiga, pemahamanku mulai berubah. Itu bermula dari perdebatanku dengan seorang teman tentang kebenaran. Syamsul Hadi, demikian nama temanku itu, mengatakan bahwa kebenaran hanya akan ditemukan di dalam Alquran. Aku pun berusaha mencarinya. Aku lalu dipertemukan dengan Ustad Fatih Karim, aktivis Islam. Lewat pertemuanku dengannya di Masjid Kampus itulah, perkenalanku dengan Alquran dimulai.
Kepadanya, aku menceritakan tentang pengalaman hidupku termasuk berbagai pertanyaan besar yang belum terjawab tentang kehidupan. Kami lalu berdiskusi hingga mencapai suatu kesepakatan tentang adanya Tuhan pencipta alam semesta. Aku pun akhirnya paham bahwa adanya Tuhan, atau Sang Pencipta memanglah sesuatu yang tidak bisa disangkal dan dinafikan bila kita benar-benar memperhatikan sekeliling kita.
“Tapi masalahnya ada lima agama yang mengklaim mereka punya petunjuk bagi manusia untuk menjalani hidupnya. Yang manakah yang bisa kita percaya?” tanyaku saat itu.
“Apapun diciptakan pasti mempunyai petunjuk tentang caranya bekerja,” jawab Ustad Fatih. Lalu ia menambahkan, “Begitupun juga manusia, masalahnya, yang manakah kitab petunjuk yang paling benar dan datang dari Sang Pencipta atau Tuhan yang Maha Kuasa?” Lalu dibacakanlah ayat dalam Alur’an: ”Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (TQS al-Baqarah [2]:2)
Mendengar ayat itu, aku terpesona dengan ketegasan, kejelasan serta ketinggian maknanya. ”Mengapa penulis kitab itu berani menuliskan seperti itu?” pikirku.
Seolah membaca pikiranku, Ustad Fatih melanjutkan, “Kata-kata ini adalah hal yang sangat wajar bila penulisnya bukanlah manusia, ciptaan yang terbatas, Melainkan pencipta. Not creation but The Creator. Bahkan Alquran menantang manusia untuk mendatangkan yang semacamnya!”
Pikiranku saat itu bergejolak. Dalam hatiku berkata, “Mungkin inilah kebenaran yang selama ini aku cari!”. Tetapi ada beberapa keraguan di benakku. ”Mengapa agama yang sedemikian hebat malah terpuruk, menjadi pesakitan, hina dan menghinakan dirinya sendiri?” tanyaku.
Ustad itu menjelaskan bahwa Islam tidak sama dengan Muslim. Islam sempurna, mulia dan tinggi, tidak ada satu pun yang tidak bisa dijelaskan dan dijawab dalam Islam. Islam adalah sistem kehidupan. Sangat luar biasa penjelasannya. Sesuatu yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Aku pun mulai sadar akan kelebihan dan kebenaran Islam. Keraguanku mulai luntur.
Masuk Islam
Aku pun akhirnya bisa menemukan jawaban sempurna atas ketiga pertanyaan besarku. Ternyata aku ini berasal dari Sang Pencipta dan itu adalah Allah SWT. Aku hidup untuk beribadah kepada-Nya sesuai dengan perintah-Nya yang tertulis di dalam Alquran. Alquran itu dijamin datang dari-Nya. Setelah hidup ini berakhir, kepada Allah lah aku akan kembali dengan membawa amal ibadah selama hidup untuk dipertanggungjawabkan sesuai dengan aturan yang diturunkan oleh Allah. Setelah yakin dan memastikan untuk jujur pada hasil pemikiranku ini, maka aku memutuskan, ”Baik, kalau begitu saya akan masuk Islam!”
Banyak tantangan setelah itu. Maklum aku hidup dalam lingkungan keluarga yang sangat tendensius kepada Islam. Di mata mereka orang Islam itu jahat dan jorok. Orang tuaku bilang aku sinting dan kerasukan setan. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak akan mengorbankan kebenaran yang kucari selama ini. “Tidak, sama sekali tidak,” pikirku. Aku yakin bahwa Allah lah yang harus didahulukan. Kini orang tuaku bangga kepadaku.
Setelah masuk Islam, aku menemukan ketenangan sekaligus perjuangan. Aku bangga kepada Islam. Mudah-mudahan, sampai akhir hidup, aku dan keluargaku, tetap berada di barisan pembela Islam yang terpercaya. Janji Allah sangat jelas, dan akan terbukti dalam waktu dekat. Allahu Akbar!
Komentar:

Iin, Istri Felix
Mudah-mudahan Tetap Istiqamah
Tidaklah mudah mempunyai seorang suami pengemban dakwah. Hampir tiap hari ditinggal pergi. Keyakinannya terhadap janji Allah sungguhlah membuat saya iri. Meski belum lama masuk Islam, tapi semangatnya memperjuangkan syariat-Nya mampu mengalahkan kebanyakan orang yang sudah mengenal Islam lebih lama. Subhanallah. Mudah-mudahan tetap istiqamah dan selalu ikhlas. Ummi dan Alila selalu berdoa untuk Abi.
Ust Fatih Karim, Pembimbing Felix pertama kali
Sudah Jauh Berubah

Subhanallah Walhamdulillah Allahu Akbar. Felix sekarang jauh banyak berubah dibanding waktu pertama saya jumpa.Visi hidupnya, semangat, juga sikapnya telah diformat ulang oleh Islam ideologis. Semangatnya dalam mengkaji Islam, luar biasa! Semoga Felix tetap istiqamah dalam dakwah, tawadhu, dan senantiasa menjadikan Islam sebagai poros hidupnya.

 sumber: http://forumukhuwahintelektualmuslimah.wordpress.com

Felix Siauw : Curhatan Hati Seorang Muslim Cina Indonesia

Nama saya Felix Y. Siauw, kelahiran Palembang 26 tahun yang lalu, dan setidaknya dalam jangka waktu yang lebih dari ¼ abad itu saya sudah merasakan banyak sekali kesulitan dan kebahagiaan hidup. Setidaknya ada 4 momen paling bahagia bagi saya, yaitu tahun 2002 ketika saya memutuskan untuk mengganti keyakinan dengan mengakui Allah swt, sebagai satu-satunya Tuhan dan sesembahan.

Tahun 2006 ketika saya menikahi seorang muslimah yang kelak memberikan saya 2 momen bahagia lagi; kelahiran Alila Shaffiya asy-Syarifah pada tahun 2008 dan Shifr Muhammad al-Fatih 1453 pada tahun 2010.
Dari nama yang saya publish, sebagian besar pasti memahami bahwasanya saya tergolong etnis Cina. Dan inilah salah satu sebab kenapa saya menulis tulisan ini, disamping alasan utamanya adalah karena kewajiban mendakwahkan Islam dan pemikiran-pemikirannya ke seluruh dunia.
Ini adalah sebuah curahan hati dan aduan serta penjelasan dari seorang Ayah, Muslim-“Cina”. Walaupun banyak kasus lain yang saya alami berkaitan dengan ide bid’ah nasionalisme yang diwariskan Belanda dan Barat, saya akan sedikit memfokuskan pada satu kisah yang baru saja saya alami.
Berawal ketika Istri saya yang melahirkan anak keduanya di RS. Budi Kemuliaan Jakarta Pusat, setelah itu seperti biasa, atas nama pribadi ada beberapa karyawan yang menawarkan jasa pembuatan akte kelahiran putra saya. Dan kami pun menyambut baik tawaran yang dibandrol dengan harga Rp. 100.000. Tak berapa lama, setelah karyawan tadi melihat fisik saya, lalu dia bertanya pada istri:
“Bu, bapaknya muslim bukan? keturunan ya?”
“Muslim kok, emang kenapa mbak?” Jawab istri saya santai,
“Nikahnya pake cara Islam kan?, karena kalo nikahnya beda agama susah ngurusnya bu, dan beda juga biayanya..”
“Ya Islam lah, bedanya apa mbak”, sedikit terintimidasi, Istri saya tetap berusaha santai
“Kalo pribumi 100.000 kalo keturunan 250.000”
Setelah memberitahu saya perihal percakapan ini, dengan agak kesal saya pun mencoba membuktikan perkataan istri saya tadi. Ternyata benar, ada diskriminasi kepengurusan akte kelahiran, dan dokumen yang diperlukan pun lebih daripada yang biasanya.
Walau saya desak dengan berbagai dalil, termasuk dengan dalil bahwa penghapusan istilah WNI Keturunan sudah dilakukan, tetap saja tidak ada penjelasan yang memadai kepada saya. Bertambah kekesalan saya, maka saya memutuskan untuk mengurus sendiri akte kelahiran anak kedua saya. Bukan masalah uang, ini masalah ide kufur yang tidak perlu diberikan ruang toleransi.
Langkah pertama adalah melakukan browsing ke Internet ke alamat Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil; www.kependudukancapil.go.id, dan di situ saya mendapatkan informasi bahwa pembuatan akte kelahiran biayanya gratis s/d Rp. 5000.
Dan syaratnya: Surat Keterangan Lahir, KK, KTP Orangtua, dan Surat Pengantar RT/RW yang dilegalkan Kelurahan. Ternyata setelah saya datang pada hari Rabu, 07 Juli 2010, petugas malah meminta akte kelahiran untuk dikonfirmasi apakah saya warga keturunan atau bukan. Dan sekali lagi saya katakan bahwa urusan keturunan sudah tidak ada, semua yang dilahirkan di tanah Indonesia adalah WNI.
Dan setelah itu akhirnya saya tetap diminta membayar Rp. 70.000, sebelum membayar saya menanyakan bukti pembayarannya, sedikit gagap petugas menyatakan bahwa lembar bukti penyerahan dokumen sudah dianggap menjadi bukti pembayaran (nanti coba kita liat ya). Dan yang paling menyakitkan, ditulis lagi dalam keterangan permintaan akte kelahiran bahwa anak saya termasuk Stbld. 1917.
Lalu dengan serius saya tanyakan: “Masih berlaku tuh stbld?”
“Oh masih pak, semuanya harus ditulis begitu”
“Oh gitu, kirain jaman belanda aja pake stbld!” sindiran dari saya yang tampaknya tidak dipahami petugas bersangkutan.
Ok, cukup cerita pendahuluan saya, sekarang kita masuk ke pokok pembahasan.
1. Inilah budaya pegawai negeri Indonesia yang jauh dari kesan profesional dan korup, birokrasi yang terbiasa tidak jujur dan selalu mencari kesempatan atas minimnya data yang mereka beri kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan. Sehingga seolah-olah masyarakat yang harus membayar mereka karena pelayanan itu, padahal pelayanan mereka sudah dibayar oleh negara.
Sampai setelah saya membayar Rp. 70.000 itu, saya tidak mengetahui kemana uang ini dialokasikan, dan parahnya yang menerima uang ini adalah muslim. Saya terima kalau yang melakukan korupsi ini bila bukan muslim, tapi pelakunya sekali lagi adalah muslim, yang seharusnya menjadi pekerja yang paling jujur karena aqidahnya memerintahkan begitu
2. Budaya rasialis dan nasionalisme kampungan rupanya masih menjadi mental ummat Islam saat ini. Mereka membedakan antara pribumi dan keturunan. Tanpa mereka ketahui bahwa cara ini adalah strategi utama belanda dalam melakukan politik divide et impera dan menghancurkan sendi ekonomi dan masyarakat.
Politik rasialis ini dimulai ketika VOC dan Pemerintah Belanda membagi kelompok masyarakat menjadi Inlander (pribumi) dan Vreemde Oosterlinge (Orang Timur Asing, termasuk Cina, Arab dan India), lalu memberikan akses ekonomi kepada Vreemde Oosterlinge terutama orang Cina sehingga pecahlah permusuhan dan kebencian antara Inlander dan Vreemde Oosterlinge (lihat Buku Api Sejarah, Ahmad Mansur Suryanegara).
Politik rasialis ini bahkan dimulai semenjak awal pencatatan akta kelahiran dengan membedakan antara Inlander dan Vreemde Oosterlinge, antara agama penjajah Belanda Kristen dan Katolik serta Islam. Lihat saja akte kelahiran Anda yang muslim pribumi akan mendapatkan kode Stbld. 1920, sedangakan yang nasrani pribumi mendapatkan kode Stbld. 1933, warga keturunan dari timur (Cina, Arab, India, dan lainnya) dengan Stbld. 1917. Akta kelahiran inilah yang menjadi dasar dalam perbedaan perilaku penjajah Belanda dalam masalah pendidikan, pekerjaan dan status sosial.
Sayangnya (baca: bodohnya), pemerintah Indonesia justru mengadopsi Stbld. (Staatsblad, artinya Peraturan Pemerintah Belanda) menjadi aturan dalam pencatatan kelahiran yang otomatis dari awal sudah membedakan membuat rasial penduduknya berdasarkan cara penjajah Belanda membedakannya.
Jadi ketahuan sekali bahwa negara kita secara hukum dan ekonomi masih terjajah dan samasekali belum merdeka. Nah, wajar kan kalau kita liat konflik horizontal maupun vertikal atas nama etnis masih terjadi di negeri ini? karena memang dari awal pemerintah Indonesia sudah meniatkannya. Membebek penjajah Belanda. Dan hampir sebagian besar hukum kita adalah adopsi Belanda.
Belum puas rupanya dijajah 350 tahun?!
Inilah ikatan-ikatan yang merusak dan terbukti menimbulkan perpecahan dan konflik yang tak berkesudahan. Ikatan yang muncul dari pemikiran yang dangkal dan sempit. Ikatan etnisitas, kekauman dan juga termasuk ikatan nasionalisme kampungan. Ikatan inilah yang menyebabkan muslim Indonesia tidak memperdulikan muslim Palestina hanya karena dibatasi oleh garis-garis khayal batas negara.
Ikatan ini juga yang memenangkan penjajah Belanda ketika membelah ummat Islam Indonesia atas nama etnis. Dan ikatan ini pula yang menyebabkan Arab Saudi, Yordan, Turki, Mesir, Irak, Iran dan semua negara muslim saat ini terpecah belah padahal dahulunya mereka adalah satu kekuatan. Inilah sebuah ikatan palsu yang harus dimusnahkan: fanatisme golongan, bangsa dan semacamnya yang kita kenal dengan kata ashabiyah.
Padahal Rasulullah dengan sangat jelas telah mewanti-wanti agar kita jangan membedakan diri berdasarkan sesuatu yang tidak pernah dipilih manusia atau bagian dari qadar Allah.
Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada wajah kalian dan tidak pula kepada bentuk tubuh kalian, akan tetapi Allah melihat qalbu (akal dan hati) kalian dan perbuatan kalian (HR Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurrairah)
Maka benarlah dalam aturan kewarganegaraan Daulah Madinah ketika Rasulullah saw. menjadi kepala negara, beliau saw. hanya membedakan 2 jenis penduduk; muslim dan kafir. Begitu pula yang dilaksanakan Khulafaur Rasyidin setelah beliau dan Khalifah-khalifah setelah mereka sampai runtuhnya Daulah Khilafah Islam Utsmaniyah tahun 1924. Artinya pembedaan kewarganegraan adalah berdasarkan pengakuannya atas Islam, bukan yang lain seperti fanatisme golongan atau bangsa.
Juga larangan sempurna dari Rasulullah atas sikap fanatisme golongan, bangsa dan semacamnya yang dirangkum dalam larangan ashabiyah.
Siapa saja yang berperang di bawah panji kebodohan marah karena suku, atau menyeru kepada suku atau membela suku lalu terbunuh maka ia terbunuh secara jahiliyah (HR Muslim)
Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak kepada ashabiyah, bukan pula dari golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah, dan tidak juga termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah (HR Abu Dawud)
Tidak ada keistimewaan khusus karena warna kulit, karena jenis dan karena tanah air. Dan tidak halal seorang muslim merasa fanatik (ta’ashub) karena warna kulitnya melebihi kulit orang lain, karena golongannya melebihi golongan lain dan karena daerahnya melebihi daerah orang lain. Pribumi ataupun keturunan. Bahkan Islam menaruh ikatan semacam ini dalam posisi yang paling rendah karena pemikiran semacam ini adalah batil.
Tapi inilah kondisi masyarakat dan ummat, mereka mempunyai cap tertentu bagi etnis tertentu, dan akhirnya bukan melihat karena ketakwaannya tetapi karena bentuk wajahnya. Hanya karena seseorang berwajah Arab lantas setiap bertemu tangannya dicium, karena persangkaan bahwa arab identik dengan Islam (ironis).
Hanya karena seseorang berwajah Cina lantas diidentikkan dengan kafir? (lebih ironis), lebih aneh lagi kalau ketemu bule semuanya serba senang, sumringah dan berjalan menunduk (kacau).
Inilah mental-mental terjajah, mental yang sangat ridha dan bangga kepada negara yang menjajahnya tapi lupa sama sekali dengan Tuhan yang menciptakan dirinya dan memberinya kenikmatan. Padahal kita semua sebagai muslim tidak diseru kecuali berpegang pada aqidah yang satu, ikatan yang satu, perintah yang satu dan kepemimpinan yang satu. Tauhid dalam segala bidang.
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai (QS ali Imraan [3]: 103)
Seandainya saja Rasulullah masih ada, maka tentu dia akan menghapuskan segala macam diskriminasi dan rasialisme yang diwariskan dunia Barat kepada kaum muslim. Seandainya saja Umar bin Khattab masih ada, maka pastilah beliau sendiri yang akan menghunus pedangnya untuk memenggal penyeru ashabiyah.
Tapi mereka telah tiada, namun bukan tanpa warisan. Rasulullah menyiapkan sebuah sistem buat ummatnya agar ummatnya dapat bersatu padu dan kuat dalam satu kepemimpinan di seluruh dunia. Insya Allah saat Khilafah Islam tegak satu saat nanti, Khalifah lah yang akan mengomando kaum muslim membunuh ashabiyah.

penulis: felix siauw
sumber: http://un2kmu.wordpress.com

catatan kecil buat ibu, calon ibu dan anak ibu

 Catatan kecil buat ibu, calon ibu dan anak ibu - Ustad Felix Siauw

22 Desember di Indonesia diperingari sebagai Mother’s Day – Hari Ibu. Kita nggak tau darimana datengnya itu, yang jelas seharusnya Hari ibu bukan alasan untuk baik pada ibu pada satu hari aja, katena mereka layak mendapatkan itu dari kita setiap harinya.

Jadi Hari Ibu seharusnya bukan ajang ‘pamer’ perhatian pada ibu pada satu hari saja, namun lebih kepada pengingat bagi ibu dan bagi anak-anak ibu untuk menghormati dan memuliakan posisi sebagai seorang ibu.

Maka setidaknya ada hal-hal yang harus diingat oleh ibu dan calon ibu:

1. Islam memandang ibu adalah pendidik utama anak

Dalam hadits disebutkan: “Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Ibumu,” jawab beliau. Kembali orang itu bertanya, “Kemudian siapa?” “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanya orang itu lagi. “Kemudian ayahmu,” jawab Rasulullah (HR. Bukhari dan Muslim)

Disini ibu disebutkan Rasulullah 3x baru ayah 1x. Kalau boleh mengambil permisalan, maka seharusnya ibu punya tanggung jawab 3x lipat dari ayah. Ibulah yang mendidik anak-anaknya dalam porsi yang lebih besar. Semakin baik kualitas ibu, semakin baik generasi yang dihasilkan.

2. Islam menaruh ibu sebagai orang nomor satu ditaati setelah Allah dan Rasul-Nya

Posisi ini juga bukan posisi yang sembarang, ini posisi yang sangat mulia. Islam lewat ‘birrul walidain’ menggariskan bahwa posisi orangtua adalah paling tinggi setelah Allah dan Rasul-Nya. Dan ketaatan pada mereka disamakan dengan ketaatan pada Allah, dan murka mereka sama seperti murka Allah.

Dalam kenyataan, masih banyak kita temukan orangtua, terutama ibu yang justru melarang anaknya berbuat baik, bahkan mensponsori keburukan. Melarang anaknya berkerudung dan berjilbab, melarang anaknya berdakwah dan berjuang dalam Islam, atau bahkan meminta anaknya berpacaran.

Bayangkan, bagaimana yang terjadi pada generasi Islam bila orangtuanya semacam ini? Subhanallah.

Seharusnya sebagai orang yang paling ditaati setelah Allah dan Rasulullah, ibu menjadi tiang utama dalam mengajarkan amar ma’ruf dan nahi munkar bagi anaknya. Menjadi teladan hidup bagi anak-anaknya dalam perjuangan Islam.

3. Ibu lebih memerlukan ilmu dalam mendidik anak-anaknya, karena itu ibu harus lebih banyak ikutan majelis ta’lim (majelis ilmu)

Anak akan menyerap apapun yang dikatakan ibunya, karena ibunya adalah patron baginya. Ada ibu-ibu yang beralasan pada saya bahwa dia terlalu sibuk, terlalu banyak kerjaan untuk mengikuti majelis ta’lim dan mengkaji Islam.

Justru sebaliknya, semakin banyak kita memiliki anak, maka semakin banyak ilmu yang perlu kita siapkan. Dan ilmu tidak mungkin ada tanpa kita cari dan kita kaji.

Membesarkan anak tanpa ilmu sama saja menuntunnya ke depan jurang kehidupan. Dan mencari ilmu dalam mendidik anak (walaupun sulit), akan memudahkan urusan kita di alam kubur nantinya.

4. Sayang sekali, sekarang banyak ibu yang lebih sayang kambing daripada anaknya, kambingnya diiket, anaknya dibiarin

Coba lihat menjelang Idul Adha. Kambing diikat dimana-mana, takut kehilangan. Ironisnya, ibu-ibu sering membiarkan anaknya bermain tanpa pengawasan, dan akhirnya mempelajari hidup bukan dari ibunya, tetapi dari teman-temannya. Balik rumah syukur, nggak balik ya buat lagi.

Ada juga orangtua yang sibuk ikut majelis ta’lim namun tak perhatian pada anaknya. Mereka lupa bahwa ilmu bukanlah simpanan, namun sesuatu yang harus dibagikan. Mereka puas ketika menutup aurat, namun bangga ketika anaknya mengumbar aurat. Banyak yang seperti itu bisa kita lihat pada umat Islam masa kini.

Lebih parah lagi ketika ibu menyuruh anaknya berbuat baik, namun tidak mencontohkan dengan dirinya. Meminta anaknya menutup aurat di sekolah, namun ia menjemput anaknya dengan tanktop. Seperti lilin, menerangi orang lain tapi membakar diri sendiri.

Rupanya banyak ibu yang melupakan bahwa untuk melahirkan anak itu perlu perjuangan luar biasa selama 9 bulan 10 hari ditambah fase melahirkan. Kebanyakan ibu memberikan perhatian di awal-awal saja, padahal pendidikan kepada anak itu terus berlanjut hingga mereka baligh, bahkan sampai salah satu darinya meninggal.

5. Buat ibu-ibu yang berkarir, “is it worthed?” sekian juta sebagai pengganti waktu dengan buah hati?

Bila kita menanyakan “Siapa ibu de-facto anak-anak masa kini?”. Mungkin ‘pembantu’, ‘babysitter’ adalah jawaban yang tepat. Anak-anak main dengannya, tidur dengannya, bercengkerama dengannya, disuapi makan olehnya dan bahkan disusui olehnya. Dengan alasan nafkah (yang sebenarnya bisa kalau diusahakan) mereka menerjunkan diri pada dunia kerja yang tak berkesudahan. Pergi saat buah hati masih tidur, dan pulang ketika mereka telah tidur.

Jangan salahkan pembantu dan babysitter ketika anaknya nantinya justru menangis saat ditinggal pembantu atau babysitter daripada ditinggal ibunya.

Saya meminta istri saya tetap dirumah mengurus rumah dan anak. Salah satu alasan yang paling kuat adalah; saya nggak mau ketika anak saya telah dewasa, dan seandainya dia tidak seperti yang saya harapkan, lalu saya dan istri terucap “Coba dulu kita menghabiskan waktu lebih banyak untuk dia (anak)!”

Maksimal mendidik anak bukan masalah materi. Tapi masalah ilmu yang kita berikan untuk dia. Jangan sampe nyesel dibelakang karena nggak memberikan pendidikan yang maksimal.

Ala kulli hal, bagi ibu-calon ibu-dan anak-anaknya. Patut kiranya kita mengetahui bahwa jasa ibu tak akan dapat dibalas oleh anak-anaknya. Simak hadits berikut:

Suatu ketika Rasul ditanya oleh seseorang : “ Ya Rasul, sunnguh saya telah menggendong ibu saya sejauh 2 farsakh (9,6 kilometer) di jalan berpasir yang terik, andai atas pasir itu diletakkan sepotong daging niscaya matang daging itu. Apakah dengan begitu saya telah menyampaikan rasa terima kasih saya kepadanya ? “, Nabi menjawab, “Mungkin hal itu baru bisa membalas sedikit rasa sakitnya saat bunda melahirkanmu” (HR Thabrani )

Semoga sayang kita kepada kedua orangtua khususnya ibu menjadi lebih termaknai, dan semoga persiapan menjadi ibu serta mendidik anak semakin baik.

-Felix Siauw-

Minggu, 28 Oktober 2012

Kumpul Bocah

Ayooooo, mana neishaaaaa....hihihihhi tuh yang pake mukena snow white pink, nyempil sholat bareng aa Rei..

ini diaaaaa..neisha sama aa rei...
idul adha kemaren cucu-cucu enin pada kumpul nih, ada anaknya teteh, aulia sama thoriq, ada juga anaknya aa, cha-cha sama reinan...rumah yang biasanya sepi banget, berubah jadi rame sama bocah-bocah hiperaktif ini. seneeeeeng banget...

anak-anaknya pada maen, ngacak-ngacak rumah dan nyari barang-barang buat dirusakin heheheh...emak bapaknya pada ngumpul diruang makan, sambil makan tanpa henti diselingi sama gosip-gosip cantik ngalor ngidul...
hihihihi masih nagtuk nih neisha, jemberut amat....
ini diaaaaaa, si aulia + tantenya yang cantik jelita bin bermuka bulet ini hohoho...
ada cerita lucu plus tolol nih pas sholat ied...
pas dah siap buat sholat, nunggu yang ceramah, dateng lah kenclengan (kotak amal) lewat didepan kita. dengan kreatif bin tolol si hana bilang "aduh, lupa bawa duit, anterin tante yu toya, balik lagi kerumah" jadi lah saya plus ponakan paling gede ini lari terbirit-birit balik lagi kerumah yang jaraknya ga terlalu jauh. pas beberapa menit lagi mau nyampe, kedengeran suara (aaaaaaaamiiiiiiin) mateeeeeeee! dah mulai sholatnya, akhirnya kita balik lagi ke lapangan tempat sholat, pas sholat iednya mau udahan, haduuuuuh koplok pisan ini kelakuan :'( eh dah cape2 bawa duit buat dimasukin ke kotak amal, kotak amalnya dah ngilang entah kemana...huk huk...
udah selesai sholat ied, anak-anak bin bocah-bocah ini pada liat hewan kurban disebelah mesjid.
hihihihi, neisha berani megang embe sama sapi....ini mbeeeee (katanya pas liat domba) ini moooooo (katanya pas liat sapi)
Aa rei, neisha dan teh cha-cha lagi istirahat nih didepan masjid.

dari hari kamis sampe minggu, akhirnya liburan yang lebih banyak diisi sama bergosip dan makan besar ini akhirnya harus selesai, meninggalkan setumpuk lemak baru diperut...huu huuuu... sedih...sepi lagi deh rumah...

sampai ketemu lagi teh toya, aa oik, aa rei, teh cha2...nanti kita main lagi ya :*

World Hijab Day - ust. Felix Siauw

Beberapa hari ini postingan blog saya bakalan banyak diisi sama tulisan-tulisan ustad Felix Siauw. 
ya belakangan ini saya memang sedang meng"gudang"kan buku-buku dan novel-novel lain dan lebih tertarik pada buku-buku tentang sejarah islam dan beberapa tulisan mengenai banyak hal, terutama tulisan-tulisan ustad felix siauw yang sangat menginspirasi. panjang kayanya kalau saya menjelaskan siapa sosok ustad ini, singkatnya beliau ini mualaf yang pengetahuan islamnya lebih baik dari kita-kita yang memang secara beruntung lahir sebagai seorang muslim, secara lengkapnya monggo tanya om google.

 ustad felix siauw mengenai #WorldHijabDay  beberapa bulan kemarin :
  1. #Hijab dikenakan untuk melindungi keindahan diri | atau sesuatu yang dianggap bernilai lagi ranggi #WorldHijabDay
  2. #Hijab membuatmu bernilai karenanya dihormati | membuatmu berharga karenanya mulia #WorldHijabDay
  3. #Hijab bukan memasung kebebasan Muslimah untuk berekspresi | namun jelas membatasi kenakalan lelaki dalam berimajinasi #WorldHijabDay
  4. #Hijab membuatmu mengendalikan “pikiran orang sesuai yang kau mau” | bukan dikendalikan oleh “maunya pikiran orang tentang dirimu”
  5. #Hijab melepasmu dari keharusan ikuti tren dan mode | yang tak pernah dirancang untuk mudah #WorldHijabDay
  6. #Hijab samakan kedudukan disisi manusia miskin atau kaya sama | meninggikan kedudukan disisi Allah karena taatnya #WorldHijabDay
  7. #Hijab mungkin memberatkanmu didepan pandangan manusia | namun jelas meringankan di sisi Allah nantinya #WorldHijabDay
  8. #Hijab memungkinkan engkau dipilih karena iman | bukan dipilih semata karena tampak badan #WorldHijabDay
  9. #Hijab membuatmu menarik karena iman | bukan cantik karena badan #WorldHijabDay
  10. #Hijab adalah identitas bukan sekedar pakaian | bukan hanya agar eksis tapi tanda keimanan #WorldHijabDay
  11. #Hijab tiada perlu izin manusia | karena ia sudah perintah Sang Pencipta #WorldHijabDay
  12. #Hijab tiada perlu menunggu siap | karena ayat dan haditsnya sudah ditetap #WorldHijabDay
  13. #Hijab tiada perlu khawatirkan bila masih bermaksiat | karena maksiat akan terus diperbuat sampai hari kiamat #WorldHijabDay
  14. #Hijab justru halangi dari amal buruk berdosa | setidaknya hindarkan menambah dosa saat aurat dibuka #WorldHijabDay
  15. #Hijab bukan terletak pada harga dan gaya | melainkan terletak pada sah dan syara’ #WorldHijabDay
  16. #Hijab meluruskan niatmu hanya kepada Allah | meluruskan amalmu hanya karena Allah #WorldHijabDay
  17. #Hijab adalah cara termudah berdakwah | karena memberikan tauladan dan uswah #WorldHijabDay
  18. #Hijab memang tidak menjanjikanmu ketenaran | namun selalu akan memberimu ketenangan #WorldHijabDay
  19. #Hijab mendekatkanmu dengan syariat | penanda Muslimah yang taat #WorldHijabDay
  20. #Hijab Muslimah adalah kebanggan Muslim semuanya | penanda Islam memuliakan dan menghormati wanita #WorldHijabDay

BerHijab, pilihan atau kewajiban?

Bagi teman sepermainan, sepermainan yang jahiliah tentunya :p, keputusan seorang hana untuk mengenakan jilbab tentunya sedikit mengagetkan.
pake jilbab ini emang ga mungkin rasanya saya lakuin, ga ada niatan sama sekali. kapan saya punya niat berjilbab? ga tau dan ga kepikiran pada saat itu. 
memakai jilbab itu memang harus datang dari keinginan sendiri,
suatu hari, saya menggunakan kerudung pada saat acara halal bihalal kantor, saya kirim foto saya menggunakan jilbab pada tunangan saya yang sekarang menjadi suami saya, ayah bilang "subhanallah, calon istri aku cantik banget, udah pinter, baik, sholeh, pake kerudung lagi, lengkap" katanya, denger komentarnya saya lumayan kaget, karena pacar-pacar saya terdahulu kayanya ga ada yang pernah setuju kalau saya berkerudung, malah ada yang terang-terangan melarang "jangan pernah dikerudung ya! nanti kamu kaya ibu-ibu" -__- 

mendengar reaksi dari tunangan saya, saya jawab "oh, bagus ya dikerudung? emang kamu maunya hana pake kerudung ya?" billy jawab "bagus sayang, cantik, ya mau lah, suami mana yang ga mau istri nya dikerudung?" "oooh, gimana dong?berarti kamu pengen hana dikerudung ya?kapan?sekarang hana belum siap" kata saya, lalu dijawab "ga apa-apa sayang, aku ga maksa ko, ga dikerudung juga ga apa, tapi kalau ditanya maunya gimana, ya aku pengennya kamu dikerudung, tapiiii sesiapnya sayang aja"

dari sana mulai kepikiran tuh buat dikerudung, ya tapi belom siap...
banyak pertimbangan kenapa ko saya belom siap, antara lain...
  • merasa masih belum cukup "baik" untuk berkerudung
  • sholat 5 waktunya masih sering terbengkalai
  • merasa hina dan terlalu banyak dosa
  • kalau berkerudung merasa terbatas dalam pergaulan dan pekerjaan
  • kalau berkerudung merasa jauh lebih tua
  • kalau dikerudung merasa "cupu" dan ga bisa ekspolasi dalam hal fashion
  • banyak yang dikerudung tapi kelakuannya lebih buruk dari yang ga dikerudung
  • dan kekhawatiran-kekhawatiran tolol lainnya
waktu dikantor udah ada temen yang dikerudung namanya sofilahwati weleh weleh heheheh hai sofi sayang :*, ada juga yang baru pake kerudung namanya mba dini sama mba sari. dari merekalah yang juga baru memakai kerudung, saya banyak mendapatkan pencerahan.
"ga usah takut, karena amal-amalan kita masih jelek, sholat kita masih sering bolong, berkerudung aja dulu, nanti sambil berjalan sedikit-sedikit ibadahnya disempurnakan" katanya.
satu lagi, saya yakin, niat saya untuk berkerudung itu bukan datang tiba-tiba, tapi karena kehendak Allah, rasa sayang Allah. niat itu datang karena saya si keras kepala ini, dilembutkan hatinya, dibukakan pikirannya dan ditolong Allah melalui orang-orang baik seperti calon suami, mamah, teteh, keluarga, teman-teman yang secara aneh saya mau "mendengarkan" mereka, merendahkan hati saya, membuka telinga saya dengan pemikiran-pemikiran baru. coba kalau saya ga ditolong Allah dengan dilembutkan hatinya, diridhoi tobatnya, ayat quran, atau nasihat-nasihat orang lain itu bakalan ga saya denger.

dari sana juga (secara aneh dan pasrah) yang biasanya saya ga mau baca buku-buku islam, ga mau dateng ke pengajian, ga mau malam muhasabah, saya secara sukarela datang kesana tanpa paksaan. Allah sayang saya, Allah mengijinkan saya tobat :')
setelah menikah, saya tanya lagi suami "ayah, bunda pengen pake kerudung" "Alhamdulilaaaaaaah" katanya "tapi, ayah ga malu kalau bunda dikerudung?bunda bakalan terlihat lebih tua, bahkan ga modis, ayah ga malu bawa bunda kemana-mana? kan biasanya cowo bangga kalau bawa cewenya pake baju sexy biar dipamerin kemana-mana, dibangga-banggain ketemen-temennya" kata saya, trus ayah jawab "lah ko malu bun? ya engga lah, malah bangga, sexynya bunda mah cukup ayah aja yang tau, ayah yang liat, rugi amat dibagi-bagi sama orang lain, lagian berkerudung itu bukan akhir dari dunia sayang, berkerudung itu bukan berarti bunda ga bisa gaya, ga bisa cantik, terbatas dalam aktifitas. yang bedain cuma pakaian aja ko, menutup aurat, khusus buat ayah, dari sana ibadahnya juga dikit demi sedikit pasti ikut jadi lebih baik"

dari sana lah saya bernazar "ya Allah, setelah saya melahirkan, selamat sehat bayi dan ibunya, saya mau mulai berkerudung, lillahi ta'ala"

‘Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, ….’ [Qs. an-Nûr : 31].

kadang banyak yang salah kaprah, termasuk saya, berkerudung itu bukan pilihan dan menunggu kesiapan, berkerudung (menutup aurat) itu wajib! W A J IB titik ga ada koma. Masalah kesempurnaan ibadah dan prilaku, itu urusan kita sama Allah. berkerudung karena kita ingin taat, bukan menyatakan kita bebas dari dosa atau menyatakan kita lebih baik dari orang lain. berkerudung karena kita ingin taat, berkerudung karena begitulah perintahNya :)

berkerudung pun berproses. kalau bisa saya ibaratkan, awal berkerudung itu seperti awal daftar masuk sekolah dasar, kita belum punya ilmu apa-apa, tapi tiap hari belajar, dan ada tahap-tahapannya, siapa yang jadi gurunya? yang jadi gurunya Allah langsung melalui Al-Quran dan orang-orang baik disekitar kita. asaaaaal kita mau belajar :)
Awal pake kerudung, saya kaya anak balita yang masih "diajarin" ini itu yang boleh dan engga. pertamanya dikerudung pas mau pergi aja, kalau cuma ke teras depan rumah, ogah pake kerudung ribet, kadang orang yang lewat, tukang bubur, tukang batagor liat saya ga pake kerudung -__-" ternyata eh ternyata yang boleh liat kita ga pake kerudung pun ada aturannya. bahkan kalau kita dikerudung terus posting foto terbaru di fb atau di dp bbm tanpa dikerudung, bukannya itu sama aja kita memperlihatkan aurat ya? saya juga masih suka posting foto tanpa kerudung sih di dp bbm, tapi itu foto lama bukan foto setelah pakai kerudung (dan mungkin itu juga ga boleh)

QS. An-Nuur: 31, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
tahapan berkerudung jg ada ilmu-ilmu dan ajaran-ajarannya, ada ajaran yang aneh ada yang memang syar'i, ya saya ikuti yang memang ajaran islam aja, tanpa embel-embel yang lain tanpa golongan macem- macem, ajaran di Al-quran dan Rasulullah.
berproses, terus belajar, dengan memulai ketaatan pada Allah melalui menutup aurat. layaknya pertama masuk sekolah, belajar dikerudung dulu, lalu belajar berkerudung menutupi dada, lalu memakai kaos kaki, dll...
dari satu ujian ke ujian lain, dari satu kelas ke kenaikkan kelas yang lain.
saya juga masih berproses, menyempurnakan ibadah yang masih semerawut, sholat wajib yang masih bolong-bolong, sholat dan puasa sunnah yang masih harus "digusur-gusur", Bismillah...

dulu saya melihat, yang pake kerudung layaknya jubah, baju gombrang-gombrang, kerudung panjang menutupi dada ko kayanya aneh ya, kaya ajaran sesat atau terlalu ekstrim gitu (sorry, yes im stupid) tapiiiii sekarang saya tersadar, mungkin mereka sudah ditahap yang jauuuuuh dari saya, mereka berproses lebih lama dari saya, dengan ilmu-ilmu keagaman yang lebih banyak dan mendalam. mungkin saya masih ditahap pengenalan di sd kelas satu, mereka sudah ditahap smp kelas 2 hihi :D dan memang berkerudung yang benar itu bukan hanya menutup kepala dan menutup aurat dengan baju, tapiiii membalut tubuh agar lekukan tubuh tidak terlihat. duh ga berani ngomong banyak-banyak deh soal ini, pengetahuan saya belum nyampe situ, saya masih berproses, masih belajar, sampai saat ini aja saya masih susah buat pake kerudung panjang menutupi dada atau tidak memakai celana dan baju ketat. berproses, ya saya sedang berproses :)

#WearHijab oleh ust. Felix siauw :)
  1. ada yang khawatir #WearHijab lalu berbuat dosa, padahal itu belum pasti | yang sudah pasti, buka aurat dan dosa malah tiada khawatir
  2. ada yang khawatir #WearHijab lalu akan diolok karena taubat, karena merasa sebelumnya dia berdosa berat | bukannya harusnya bangga?
  3. ada yang khawatir mengotori islam bila #WearHijab dan masih bejad  | padahal ia mengotori kehormatan diri dan islam saat buka aurat
  4. ada yang beralasan banyak yang #WearHijab tetap maksiat | padahal disaat itu dia lakukan 2 maksiat, buka aurat dan menggunjing saudara
  5. ada yang menunda #WearHijab sampai dia siap | padahal semua yang kenakan hijab sadar bahwa alasan itu salah, siap itu setelah kenakan
  6. yang lebih lucu ada yang menolak #WearHijab karena tetangga bilang dia aneh mengenakannya | sudah tau tetangga bukan yang punya surga
  7. dikatakan aneh saat #WearHijab itu biasa, Rasul saat memegang kebenaran Islam dikatakan aneh dan gila | bangga kan jadi orang aneh? :)
  8. dibilang orang #WearHijab hanya untuk menutupi perut yang hamil, dikatain munafik | kalem aja, amarah tak membakar kecuali yang punya
  9. #WearHijab dan tunjukkan pada dunia, seiring berjalannya waktu | siapa yang tertawa paling akhir, siapa yang berpegang pada jalan benar
  10. dibilang ekstrimis, fundamentalis, dan kata sadis lain karena #WearHijab? | kalem we, anggap aja pujian karena menetapi jalan Allah
  11. ingat saja, setiap olokan karena #WearHijab pasti datang orang yang sirik bin jahil | yang nggak mau berhijab lalu cari-cari kesalahan
  12. bukan karena manusia #WearHijab kan? karena Allah semata kan? | lalu kenapa celaan manusia bisa masuk ke hati?
  13. saat ada yang mengolok-olok karena #WearHijab ingat baik-baik | bila kita turuti, kita berpaling dari jalan kebenaran, syaitan menang
  14. tiada perlu izin manusia untuk taati Allah dalam hal wajib | karena Allah tak perlu izin siapapun untuk memerintah #WearHijab
  15. apalagi hanya masalah kerjaan lantas give-up #WearHijab? | alamak, bumi Allah luas sayang! saatnya bikin kerja bukan dikerjain terus!
  16. berapa sih bos-mu bayar? bisa buat beli surga gaji-mu? | bos yang membimbing jalan masuk neraka, jangan diikuti, find another job!
  17. mungkin engkau bisa beralasan belum siap #WearHijab | hanya ingin mengingatkan, bahwa malaikat atid selalu siap dengan penanya
  18. hormati dirimu sendiri dengan #WearHijab | dan persilahkan orang lain menghormatimu dan prinsip hidupmu, Islam-mu :)
  19. sebagaimana berlian berharga karena sedikit jumlahnya | maka akhwat #WearHijab juga dihargai surga karena sedikit jumlahnya
  20. cantik terbatas pada fisik, hilang begitu nyawa meregang | #WearHijab kekalkan daya tarik, sampai mati pun ketaatan akan terkenang
  21. Khadija, Aisya, Shafiyya berlalu dan dunia takkan kedatangan lagi seperti mereka | namun engkau bisa menyamai mereka dalam #WearHijab
  22. para wanita-wanita sekeliling Nabi, tidak pernah ragu untuk #WearHijab | karena keraguan mereka dihapus harapan, surga namanya!
  23. tidak dimasuki surga Allah kecuali orang-orang yang menyucikan diri dari dosa maksiat | salah satunya yg penting adalah #WearHijab
  24. bila surga sudah siap menanti Mukminah taat yang siap korbankan nikmat duniawi sekarang | maukah engkau #WearHijab sekarang?

Minggu, 21 Oktober 2012

Tips Hemat Awal Bulan

hai ibu-ibu seper-pasar-an bin seper-supermarket-an
mau nulis tips berhemat saat awal bulan...sebagai pengingat untuk diri saya sendiri juga...
maksud saya awal bulan disini, bukan tanggal 1 loh ya, maksudnya awal atau pertama kali gaji pribadi atau suami, numpang mampir kerekening.

"lah ko awal bulan kudu hemat?kan justru lagi banyak uang" iya, hemat saat ga ada uang mah ga usah dibahas, karena udah pasti kalau ga ada uang, gampang banget buat (dipaksa) hemat. nah justru yang susah itu untuk berhemat pas lagi banyak uang. lagi banyak uang, ngerasa mampu membeli apapun, yang ga dibutuhin pun mendadak jadi butuh.

hemat untuk setiap orang beda-beda ya, karena penghasilannya pun beda-beda...hemat yang saya maksud disini tuh, belanja sesuai kebutuhan, kebutuhan orang juga kan beda-beda, ya kan? oh iya, kebutuhan ya, bukan keinginan.
nah karena kebutuhan tuh macem-macem, kita persempit ke kebutuhan pokok keluarga aja ya, belanja bulanan...mariiiii
  1. Sebelum pergi kepasar atau supermarket, bikin dulu list yang harus dan butuh dibeli. dikertas kecil aja, jangan buku, biar simple.
  2. Siapin uangnya, bisa cash, bisa debet, bisa juga kartu kredit
  3. kalau bawa cash, lebih gampang ngaturnya, bawa cash sesuai kebutuhan (sesuai list belanja). atau setidaknya, bawa uang lebih tapi tidak berlebihan.
  4. kalau debet, ga ada masalah sih, lebih tenang tapi tenang yang menghayutkan ;p...tapi sebisa mungkin dan seharusnya tidak tergoda untuk belanja diluar list belanjaan yang udah kita susun dirumah. kalau bawa debet (uang lebih banyak) secara tidak sadar kita jadi terdorong untuk belanja lebih banyak, diluar kebutuhan karena merasa membawa uang lebih.
  5. kalau kartu kredit, hampir sama kalau bawa debet...bedanya, kalau kartu kredit itu kita ngutang ke bank. sebisa mungkin kartu kredit hanya digunakan sebagai alat pengganti pembayaran aja, ga usah nunda bayar, biar ga ada bunga, tagihan keluar langsung bayar. dan belanja sesuai uang yang kita sediakan dan punya, bukan belanja sesuai limit kredit yang disediakan kartu kredit. pake kartu kredit ini banyak juga ko untungnya, sering ada disc di beberapa supermarket untuk kartu kredit tertentu.
  6. coba liat list belanjaannya, bisa ga dibeli di minimarket deket rumah (in**mart atau al**mart)? atau harus ke supermarket besar (sup**ind* atau car**fo**?) kenapa ini jadi penting? karena kalau kebutuhan pokok itu bisa kita beli di minimarket, mending diminimarket deh. memang mungkin untuk sebagian barang, harga barang nya tuh lebih murah kalau kita beli si supermarket besar, tapiiii justru uang yang harus kita keluarkan pun jadi lebih besar, ko? karena kita belanja lebih banyak dari kebutuhan hihihi...masih blom mudeng? gini, kalau ke minimarket, barangnya kan ga terlalu banyak, yang penting-penting aja. nah kalau disupermarket, barangnya lebih banyak dan beragam. nah kebiasaan cewe bin ibu-ibu penglihatan tuh racun adanya hehehe...apa yang dia liat, mulai menggoda hati untuk dibeli. akhirnya yang ga ada dilist belanja dimasukin deh ke keranjang belanjaan. 
  7. point ke 6 ini ga berlaku kalau temen-temen semuanya bisa setia pada list belanjaan dan tidak tergoda terhadap barang-barang yang lebih ganteng di rak-rak penjualan sana, tapi setau saya anda akan luluh pada godaan disc dan kemasan unyu-unyu yang ada. semua barang yang ada, seperti menjadi kebutuhan wajib yang harus terpenuhi.
  8. belanja bulanan identik dengan belanja sekali di hari itu untuk kebutuhan sebulan lamanya, jadi sebareg-abreg deh tuh keranjang belanjaan isinya. kenapa sih harus beli seabreg-abreg untuk sebulan lamanya? bakalan ada perang? atau krisis moneter? atau hemmm bencana pangan untuk sebulan kedepan? engga kan?
  9. ngelanjutin poin ke 8, lebih baik belanja bertahap...coba liat, apa yang memang udah abis, kecap?minyak goreng?beras? kalau dah sekarat untuk mencukupi seminggu kedepan ya beli. tapi kalau misalnya shampo, gula, teh, kecap persediaannya masih mencukupi, ya belinya nanti aja kalau dah mau abis. ya toh? kadang belom abis kita dah beli, numpuk sampe busuk, dibuang deh (biasanya makanan). 
  10. apalagi ya, tambahin ya kalau ada yang kurang. coba tips ini...sebelum belanja, coba sholat tahajud dulu, berangkat dengan bismillah, dan setiap melihat tatapan merayu dari rak-rak belanjaan itu coba baca ayat kursi, lalu buru-buru lari terbirit-birit ke kasir pembayaran setelah selesai belanja, bayar lalu mengheningkan cipta atas bergugurannya uang yang berpindah tangan dari dompet kita ke tangan mba kasir. apa sih naaaaaaaa....hehehhe
tips nya gampang banget kan?semua orang bisa bikin dan semua orang juga tau, tapi implementasinya susyaaaah hihihih...

ini kisah kasih hana setiap bulannya saat masih berkutat dengan lumpur kenistaan bernama "melebihi budget"

udah bikin list mau beli kebutuhan pokok plus kebutuhan buat anak, masuk ke supermarket besar, bawa kereta belanjaan yang paling besar (bukan buat belanja padahal, buat naro neisha aja heheh), liat list belanjaan, oh yang pertama dibeli roti, diambil deh roti, liat selai coklat enak tuh kayanya (ga ada dilist) tapi dirumah ada selai kacang, coklat belom (diambil akhirnya) eh stawbery juga deh (duaaa cenah yang ga dibutuhin diambil),
masuk ke tempat anak-anak, beli pampers neisha, sebelahnya ada babyoil (ga ada di list) oh iya baby oil masih banyak dirumah, tapi ini babyoil aroma baru, butuh nih (butuh/ingin?) diambil deh...
iiiiih ada mainan neisha lucu, drum kecil, dirumah ada yang warna kuning, yang biru belum (ambil lagi) lama-lama list belanjaan dah ga berguna...dalam hati "tenaaaang, kan bawa kartu debet" teruuuus aja ngambilin yang ga penting-penting...
akhirnya nyampe kasir, bayar...dan ternyata lebih dari budget awal...3 kali lipat!!!over budget...
nyampe rumah, ngelurin belanjaan, sambil bilang "duh belanja banyak banget ya huks huks" sambil liatin satu-satu barang (iiih ngapain beli ini ya) hahahah...tapi masih punya alesan, ga apa-apa deh kan belanjaan yang ada, kalau ga abis masih bisa dipake buat bulan depan (alesan sama tiap bulannya) dan si hana dengan culasnya mengambil budget dari pos lain yang udah dipisah-pisahin dari awal untuk nutupin kelebihan pengeluaran dari belanja bulanan. sekian :D

Menyenangkan Semua Orang

Menyenangkan semua orang...
bisa? kayanya ko agak mustahil ya...
Sebaik apapun kita, ada aja tuh yang bakalan ga suka sama kita...
Coba liat deh beberapa artis yang pada cantik, pinter, kaya, terkenal, terlihat sempurna tanpa cela, tetep aja punya haters. lah artis yang hampir tanpa cacat aja ada yang ga suka, apalagi kita-kita ini.

itulah memang peran yang dibuat sama Allah, peranan yang menemani kehidupan langkah kita, ada si baik yang kita bisa andalkan sebagai seorang teman, dan ada si jahat yang akan selalu ga suka sama kita, entah itu sirik atau apapun. Si baik jadi pendamping, si jahat jadi pengingat. iya si jahat ini seorang pengingat dan penegur, benar atau tidak apa yang dia katakan, setidaknya kita terpacu untuk terus memperbaiki diri. Pro dan Kontra, itu kali yah istilahnya.

seorang sahabat saya dari balita bernama Yustina (utin) *hai utin sayang* sempat kaget kala melihat salah satu note saya di FB "hanaaa, ko sekarang seneng nulis sih, perasaan waktu SD disuruh bikin cerita pendek aja ga bisa" hahahah iya, saya ini sama sekali ga punya bakat menulis, bahkan sekarang saya menulis atau berbagi cerita di note atau blog pun bukan ajang memperlihatkan kemampuan menulis dan mengolah kata, saya hanya senang berbagi cerita.

awal mula saya senang bercerita lewat tulisan ini adalah saat saya masih bekerja di salah satu oil company, khususnya pada saat saya mulai berpacaran dan akan menikah dengan seorang Billy Goenandar. Entah kenapa, saya yang sudah biasa digosipkan yang aneh-aneh ini (sok artis) sedikit muak dengan gosip yang beredar mengenai saya dan calon suami saya. Akhirnya saya coba nulis di note soal cerita saya sebenarnya, ga mungkin juga saya undang infotaiment, lah sama guweeeeh?hahahah...di note itu saya bukan klarifikasi, tapi ya cerita aja, versi saya sendiri, menanggapi gosip-gosip diluar. jadilah dari sana, saya seneng nulis.

Gosip pertama yang saya ceritain jg disini adalah, saya memutuskan hubungan dengan pacar sebelumnya karena udah nemu yang lebih kaya, mapan, dan punya jabatan bagus...hadeuuuuh, usil banget deh ah, lah wong pas putus, trus jadian sama Billy, billy blom punya pekerjaan tetap, masih freelance. gosipnya tuh gara-gara saya sudah kerja, trus mutusin pacar saya yang saat itu masih kuliah (seangkatan tp saya lulus lebih cepat) jadi disangkanya, gara-gara saya udah kerja, saya nyari yang udah kerja dan mapan juga. disangkanya tuh jadian sama pemilik SPBU lah, atasan dikantor lah, sama pengusaha lah...ai maneeeeeh,,, gua mah mau nikah sama billy bukan gara-gara dia kaya, tapi karena dia calon miliarder heheheh...aaaamiiiin...ayolah jangan dangkal otak kalian! hahaha...saya ga matre kaya kalian :p isi otaknya nyari cowo liat duit ma jabatan doang. iya, punya calon suami kaya, punya jabatan dan karir yang bagus itu bikin bangga, tapi emang ga diliat sholehnya? baiknya? tanggungjawabnya dll?

gosip kedua, belom setaun pacaran mau nikah...HAMIL DULUAN!!!kampret, bukannya ngedoain persiapan pernikahan saya berjalan lancar, malah digosipin hamil duluan, susaaah bener deh liat orang seneng. trus saya bilang sama calon suami "yank, disangka hamil duluan nih" trus suami bilang "hahahah" gitu doang...malah ketawa ngakak dia...trus dalam hati saya bilang, "kita liat aja nanti, klo hamil duluan, kan ga akan 9 bulan ngelahirinnya, lebih cepet". lagi pula saat itu saya ga merencanakan cepet hamil, nunda setaun dulu.

gosip ketiga, pas ternyata tokceeeeeer, si ayah menghamili saya secara seksama (apaan nih sih bahasa gw) hahahaha, maksudnya, nikah langsung hamil, Alhamdulillah...eh ni orang-orang gelo yang sukanya ngegosip bilang "tuh kan, hamil duluan" tapi saya santai aja nanggepinya, liat aja saya lahirnya kehamilan bulan ke berapa. tunggu 9 bulan lagi yeee...

gosip keempat gara-gara si neisha lahirnya lebih cepet beberapa hari..
nikah 051209, neisha lahir 280810, dilahirin 9 bulan kurang 7 harian dari tanggal saya nikah, masih dibilang hamil duluan...woi, kalau 7 bulan saya ngelahirin baru boleh curiga, lah ini ga nyampe 10 hari lebih cepet masih dianggap hamil duluan. ya elah, masa kalau saya hamil duluan "duh, yank aku telat nih udah 7 hari, aku hamil" trus billy bilang "ya udah, mari kita nikah, biar ga ketauan hamil duluan" ya masa gituuuuu!!!! kan tunangan aja dah 3 bulan sebelum nikah, persiapan nikah aja berbulan2, masa digosipin nikah gara2 hamil duluan....aaaah lumutan otak kalian!!!!

suami yang anteng-anteng aja ini cuma senyum-senyum aja kalau saya kasih tau ada yang gosipin ini itu..."kita hidup mah, pasti aja ada orang yang ga suka, ga usah ditanggepin, cape sendiri"
iya ya, ngapain juga cape-cape mikirin mereka yang ga suka sama kita, ngapain juga panas hati diomongin yang ga bener tentang kita, lah yang penting keluarga, temen terdeket tau yang terjadi kaya apa.

makasih aja sih, buat yang bergosip tentang saya, kalian udah mengerahkan pikiran, waktu dan tenaga kalian untuk selalu mengingat dan membicarakan saya, begitu berartinya kehidupan saya untuk kalian, saya jadi merasa sangat penting. maaf saya kadang ga punya waktu buat mikirin kalian, abis kalian kurang penting untuk dibicarakan ;p

bahagia, ada aja orang lain yang ga ikut bahagia. sedih, ada aja orang yang malah berbahagia. mau nikah, disangka dah nemu cowo kaya. mau cepet nikah, disangka hamil duluan, kotooooor bener deh otaknya...
kita baik, dibilang sok baik. kita bebagi informasi, dibilang sok pintar. kita mengajak ke arah yang lebih baik, dibilang sok alim. kita mengajak orang sedekah, ada aja yang bilang sombong. kita mau nolong, dicurigai ada maunya. ya kan? selalu ada mahluk seperti ini.

menyenangkan semua orang? pasti adaaaaa aja yang ga seneng sama kita...sebaik apapun kita...
ga usah terlalu berusaha mencari pembelaan atau pembenaran agar kita selalu disukai dan menyenangkan mereka, karena apapun yang kita lakukan, mereka punya berjuta alasan untuk tetap tidak menyukai kita, mereka tidak pernah puas.
ya sudah biarkanlah sisa waktu hidup mereka hanya sibuk bergunjing dan mencari kesalahan orang lain, kita? menikmati indahnya hidup ini, berbahagia dengan orang-orang terkasih.

jadilah yang terbaik dari dirimu, bukan menjadi sosok baik yang orang lain tuntut!

Bill Cosby-"That’s it, it will be a big failure if we try to make everyone happy"

Sabtu, 20 Oktober 2012

Inspirasi Karya Muslimah


Dari kiri, sahabat saya tersayang Tenny (anenk) FYI masih available :D , Ligwina Hananto (Teh wina) dan yang paling kanan saya sendiri (yang paling tinggi gede alias "lebar" hoh!)

Yippi yeee yippi yooy, akhirnya bisa ketemu sama independent financial planner yang paling saya kagumi, Ligwina Hananto CEO dan founder dari QM Financial. aduuuh ya, teteh yang satu ini, seorang istri, ibu dari 3 anak, pinter banget, cerdas, ramah, penulis buku ,walau suka rada nyinyir dan judes kalau ditwitter heheheh.
Satu bulan kemarin (29 September 12) saya dan sahabat saya anenk, dateng ke acara QM financial "inspirasi karya  muslimah". Seneng banget nih ada acara dari QM financial, karena biasanya mereka bikin acara di Jakarta, tanpa pikir panjang saya dateng ke acaranya, tiketnya kebeneran murah pulak. Ada talkshow, bazzar, konsultasi keuangan, fashion show, hijab turtorial.

Dateng jam 9 pagi, dimulai lah acara dengan sesi pertama menghadirkan muslimah-muslimah cantik dan kreatif, ada mba irna mutiara dari up2date, teh ghaida muslim designer yang merupakan anak pertama dari aa gym juga, manik laluna dan dua pengurus hijabers bandung yang cantik-cantik. Subhanallah mereka tuh udah jadi ibu, cantik-cantik, kreatif dan sangat inspiratif.
teteh-teteh cantik ini nyeritain awal-awal mereka terjun ke bisnis dan bisa sukses sampai sekarang. salah satu kata-kata manik laluna, menceritakan temennya yang memutuskan untuk berhijab, bilang gini kira-kira "ga usah takut rezekinya seret karena memutuskan untuk berkerudung, aurat istri ditutup, rezeki dari suami ngucur" katanya...
selesai sesi bareng muslimah-muslimah inspiratif ini, kita masuk ke sesi dari caring colors, diajarin cara make up biar ga menor hihi
Nah ini dia sesi yang ditunggu-tunggu, setelah makan siang kita ketemu sama mas mohammad teguh dari QM Financial, diajarin tentang islamic financial planning. isi materinya kita bahas di blog lain aja kali ya...oh iya QM Financial ini bukan agen asuransi, bukan juga bank atau lembaga keuangan apapun yang jualan produk, mereka ini independent, mereka planner, bantu orang lain untuk nyusun perencanaan keuangan individu maupun perusahaan. mereka juga sering nongol di TV ko, bahas soal keuangan khususnya Ligwina Hananto
Sesi berikutnya dari sponsor nih, dari Bank mandiri syariah, jelasin mengenai produk-produk syariah mereka termasuk reksadana dan cicilan emas.
Ada Juga dari Samuel Aset manajemen, mereka ini tuh, manajer investasi yang mengelola portofolio reksadana. Ibu cantik berbaju pink ini jelasin mengenai kinerja reksadana yang mereka kelola.
last but not least, sekitar jam 4 sore sebelum acara ditutup, ada hijab turtorial dan fashionshow dari up2date. (duh sorry fotonya blur) bajunya buagus-buagus, tapi karena tadi dah diajarin untuk menahan godaan belanja yang ga terlalu dibutuhin, ga jadi deh beli baju-bajunya yang lumayan mahal2 ini *ngeles* heheh...

Pulang dengan ilmu, pengalaman dan teman baru, yang paling penting ketemu LIGWINA HANANTO hehehe *FansNorak*

Hei Passion, There You Are

Passion? hmmm passion saya?
menyukai hal-hal berbau angka dan perhitungan bukan hal yang baru saja saya pelajari. kecintaan saya pada dunia finace sudah ada semenjak SMA kelas 2, saya sangat menyukai pelajaran ekonomi, apalagi yang ada itung-itungannya kaya akuntansi. kelas 3, keahlian saya terhadap mata pelajaran ekonomi seperti akuntasi, ekonometri dll semakin mencolok, nilai-nilai saya hampir selalu sempurna.
atas dasar itu pula saya meyakinkan diri untuk kuliah dengan mengambil jurusan akuntansi dan yap, pilihan kuliah di jurusan akuntansi ini adalah pilihan yang tepat, ternyata dunia inilah yang saya cintai dan kuasai.
Setelah lulus, bekerja dibeberapa perusahaan dan akhirnya menikah. passion saya terhadap dunia kerja lama-lama menghilang, menghilang karena tuntutan peran seorang "pengabdi" sebagai seorang istri dan seorang ibu. Mungkin kalau saya masih stay dibandung, saya masih terpikirkan untuk bekerja, masih berambisi berkarir, mencari pekerjaan dan posisi terbaik, tapi saya ikut mendampingi suami berpindah-pindah kota dan pulau, agaknya memang sulit untuk tetap bekerja. saya pun enggan untuk berjauhan dengan suami "hanya" untuk suatu alasan mempertahankan ambisi berkarir, hemmm ada prioritas, dan prioritas saya adalah keluarga. atleast prioritas untuk selalu bersama suami.

Walau tidak bekerja kantoran, saya ga mau "hanya" menghabiskan waktu percuma, dari pagi sampe ketemu pagi lagi tanpa melakukan apapun yang produktif. Bukan berarti menjadi ibu rumah tangga itu ga ada kerjaan ya, edaaaan kalau ada yang bilang ibu rumah tangga tuh santai bahahahah mun ceuk urang sunda mah pakepuk! ah susah deh kalau jelasin jobdesk jadi stay home mommy tanpa asisten rumah tangga, rasain aja sendiri deh, ga ada kata LIBUR! 24 hours for duty...

Saya ingin Produktif, bukan berkarir tapi berkarya.
Suami ga pernah melarang saya bekerja, ga pernah juga nyuruh saya kerja. ayah bilang "bunda lakuin aja yang bunda suka, ayah dukung, bunda mau apa?usaha?les?kuliah lagi?berorganisasi sok aja, bunda pasti bosen kalau ga berkegiatan lain"
iyes, suami saya tau banget karakter saya, ga bisa diem, bosenan, ga suka rutinitas. dan sekarang "terjebak" disituasi yang flat...dia mendukung apapun yang mau saya lakukan "asal bunda nyaman dan bahagia" katanya

dari situ saya coba mengembangkan diri, mengembangkan diri dalam arti yang sebenarnya ya, bukan "mengembang". kalau mengembang alias lebih gendut sih kayanya dah berhasil deh hahahah...
beberapa kali saya mengikuti seminar mengenai usaha, mengenai pengembangan diri.
Suatu saat saya mendengar seorang usahawan bicara "passion! passion kamu apa?coba mulai dari sana". saat itu saya cuma menganggap passion itu ya apa yang sedang saya suka atau apa yang sedang saya lakukan.

trial and error
akhirnya saya berpikir "hemmm pekerjaan apa ya, yang ga terlalu menyita waktu, bisa bekerja dari rumah, dan menghasilkan" ahaa!buka usaha, dimodalin suami hihihi :D walaupun modalnya ga saya balikin (ini jeleknya, jadi ga tanggungjawab).

hemmm saya mau protes nih sama beberapa motivator bisnis yang bilang "berwirausaha itu kita bebas finacial, bebas menentukan waktu, kita ini bos bukan pegawai, setiap hari itu libur, kita ga hidup hanya dari sekedar gaji" pokonya kata-katanya angin surga banget deh,
tetapiiiiiii kenyataan yang saya liat, diawal-awal buka usaha ko ga gini ya bunyinya "berwirausaha itu bebas financial (bebas nentuin lu mau punya untung berapa, kalau laris ya banyak duit, kalau ga laku ya gigit jari), bebas menentukan waktu (bebas nentuin waktu sih iya, tapi justru GA ADA waktu leha-leha, otak muter 24jam, dan tenaga yang tersita untuk usaha lebih besar), kita bos bukan pegawai (iya kita bos, bukan pegawai tapi kita juga lah yang menentukan ini usaha tetep berjalan atau engga, bos sekaligus PENANGGUNG JAWAB runningnya usaha, dan jangan lupa nyari pegawai bagus pun susyaaah), setiap hari libur (ya iya lah libur, kan ga terpatok jam kerja, tapi emang iya libur? diem dirumah?liburan?kayanya engga deh, justru sibuk sama kegiatan berwirausaha yang jam kerjanya lebih dari orang kantoran),  kita ga hidup hanya dari sekedar gaji (iya banget! Tapi kita lah yang muter otak buat bayar gaji pegawai, kadang keuntungan abis untuk bayar pegawai, bos nya ya kadang cuma dapet capenya"

ga ada yang salah dari kata-kata motivator itu tapiiiiii, jangan cuma ngomong yang enak-enaknya aja, kayanya ga semudah itu deh bangun usaha dari nol, butuh perjuangan dan effort yang besar, ada beberapa orang yang cuma ngeliat enaknya jadi pengusaha trus terjun jadi pengusaha sepenuhnya dan keluar dari pekerjaan tetapnya, pas nemu masalah, mentok, bangkrut, nyerah deh...padahal kan usaha tuh ada ruginya, ada sepinya, ada macem-macem permasalahannya. gagal ya bangkit, gagal ya bangun lagi, gagal lagi ya gitu aja terus, never give up...contohnya aja tuh, bob sadino, chairul tanjung, mereka sekarang kaya raya, emang bebas financial, bebas mau liburan kapan aja, bebas mau bersedekah sebanyak berapapun, mengidupi banyak pegawainya, tapi emang ga ngerangkak dari bawah? ga pernah rugi?

nah ga mau banyak-banyak ngomongin soal dunia usaha yang saya juga belom terlalu kuasai dan pahami, kita balik ke passion deh...
setelah nyoba usaha macem-macem yang sering saya sebut "ayang-anyangan" karena ga saya tekuni dan seriusin disitu, finally...setelah menaiki gunung, melewati lembah *NinjaHatori dong heheheh...saya menemukan apa kata passion...

penemuannya pun ga mudah, saya konsultasi dulu sama motivator handal yang paling mengerti saya, suami..."ayah ga masalah, bunda mau kerja atau engga, bunda mau usaha atau engga, asal bunda bahagia, seneng ngejalaninnya, tapi ayah mau ngingetin bunda, kalau bunda tuh wanita luar biasa, wanita yang penuh percaya diri, pinter, cerdas, segala macem bisa, masih inget kan dulu prestasi bunda apa aja? relasi bunda siapa aja? diem dirumah ga masalah, asal bunda tetap mengembangkan potensi diri bunda yang luar biasa, jangan ilang. ayah ga mau, ayah bakalan sedih kalau gara-gara nikah sama ayah, bunda kehilangan passion bunda, ga harus gitu sayang, bunda tetep berperan sebagai ibu sebangai istri tapi bunda juga lakuin diluar itu yang mengasah kemampuan bunda, ga usah bekerja, tapi berkarya" *blushing* sebegitu hebatnyakah diriku dimatanya heheheh

pencarian passion ini pun dimulai... ada yang bilang "lakukan pekerjaan atau kegiatan yang kamu sukai dan walaupun kamu tidak dibayar, tidak mendapatkan keuntungan, kehilangan banyak waktu, kamu masih dengan ikhlas mau mengerjakannya, itulah PASSION"

tidak dibayar atau tidak untung...hemmmm...selama ini saya usaha tuh untuk mengisi waktu sebenarnya, bukan hanya untuk mencari keuntungan, makannya saya kurang serius, hanya cari kesibukan lain...
tapi dengan definisi passion yang saya dengar tersebut bahwa "IKHLAS", walau ga untung, walau ga tidur, walau ga dibayar, semacam ngelakuin yang kita suka, hobby kita, ya kan?

Saya mulai lagi pencarian saya, apa sih yang saya sukai?apa sih yang saya lakuin TANPA BEBAN? heiiiii, i finally found you hei passion :* *berpelukaaaaaan* hahahah

yap, passion saya, ketika ngebales banyak email, bbm, soal curhatan ibu-ibu yang baru melahirkan dan menyusui, saya sebagai pejuang ASI mau membantu para ibu-ibu yang juga sedang berjuang untuk memberikan asi untuk anak-anaknya. walaupun saya banyak belajar dari buku, dll tapi tanpa ilmu yang mumpuni tentu kurang afdol, akhirnya saya bergabung menjadi anggota di AIMI-ASI dan ikut "les" mengenai ilmu menyusui ini, insyaallah berproses ingin menjadi konselor ASI. ini dilakuin karena saya sudah punya anak, tau susahnya jadi pejuang ASI, mau membantu sesama pejuang ASI yang lain. dapet ilmu, sharing ilmu, membantu orang lain tanpa dibayar saya bahagia.

menulis...saya bukan penulis, tapi senang menulis, lebih tepatnya senang berbagi cerita dan pengalaman, dengan senang hati saya berlama-lama didepan laptop untuk menulis panjang lebar. waktu belom mulai nulis diblog, saya udah mulai nulis di note FB, nah saat nulis diFB ini sempet dapet tawaran untuk nulis sebagai penulis,2 kali tawaran ditawarin bikin buku dan nulis kisah sendiri disebuah majalah wanita, tapiii karena dulu saya bukan tipe orang yang seneng bekerja dibawah deadline dan peraturan penulisan ini itu, kesempatan itu saya lewatkan cuma-cuma *tolol tolol tolol* *Jedot2inKepala* kesempatan besar yang mungkin ga akan dateng lagi. tapi ga apa-apa insyaallah ada jalan lain. yang penting, mau jadi penulis profesional kek, mau engga, saya tetep seneng nulis. oh iya, dulu ada sebuah project buku dan saya masukin hasil tulisan saya, akhirnya saya menjadi salah satu yang terpilih *yippi*.btw nulis pun ada ilmunya ternyata, dan ada tempat buat belajarnya, kalau ada dibandung, saya pengen deh ikut, sayang adanya di Jakarta

Saya senang berorganisasi, senang menambah teman baru, kebetulan ada komunitas positif yang insyaallah membawa banyak kebaikan untuk saya secara pribadi, lagi daftar jadi pengurus hijabers comm bandung nih hihihi, doain yak...

Ketika saya sampai malam membantu teman yang meminta bantuan saya untuk mebuat perencanaan keuangan pribadi, maupun perencanaan keuangan usaha...saya bisa begadang ngerjainnya, tanpa dibayar, saya seneeeeeng banget buatnya, bisa ngelakuin apapun sesuai keahlian saya untuk bantu orang lain. basic saya akuntansi, ketertarikan terbesar saya pada hal-hal berbau keuangan, dulu sempet mikir pengen jadi dosen, kuliah lagi S2, diijinin dan didukung banget sama suami untuk kuliah lagi, trus nyambi jadi dosen dikota tempat saya akan tinggal bareng suami. jadi dosen, profesi yang lebih fleksibel kayanya kalau untuk pindah-pindah tempat tinggal. udah cari-cari universitasnya, biayanya, siap untuk tes masuk, pas buka buku akuntansi yang segede kitab-kitab perdukunan dan ngebayangin tugas-tugas kuliah s2 plus presentasi dan bikin tesis, saya yang mudah menyerah sebelum berperang ini, mundur perlahan hahahha. tapi heeeeei, banyak jalan menuju garut hehehe roma maksudnya, saya mau berprofesi sebagai independent financial planner, profesional! yang punya sertifikasi internasional, udah tau pendidikan apa yang ditempuh, udah tau kemana, udah tau biayanya, dan saya ga mau mundur lagi...im in process bebeb, atleast ikut yang kelas basic-nya dulu deh, ikut yang kelas sertifikasinya ntar dulu liat nyali hihihi...

Never stop learning, itu sih intinya yang saya pengen lakuin...dan ga cuma sekedar ikut-ikutan profesi atau usaha orang lain.
my passion...berorganisasi,menulis, konselor ASI, professional independent financial planner...wirausaha lain dan usaha-usaha yang lain tentu tidak dikesampingkan, selain untuk nyari uang dan berinvestasi tapi dalam bidang ini lah yang tanpa dibayar pun saya mau melakukannya dengan IKHLAS, tapi mayar saeutik mah teu nanaon atulah nyak? hihihi doain ya, mudah-mudahan lancar, dukung saya ketik hana spasi duit kirim ke rekening saya hihihi :*

Kamis, 18 Oktober 2012

Memaafkan untuk Dimaafkan

duuuuh ini lah hidup *ahahahaha apa coba ojol-ojol
iya kehidupan khususnya berhubungan dengan sesama anak manusia *cailah bahasa gw*

Saya ini termasuk pendendam kelas berat, jelek banget nih kelakuan...pendendam dan pemarah, kumplit banget jeleknya. sifat busuk ini makin lama terkikis oleh kelakuan suami yang bertolak belakang, humanis, pemaaf, easy going, kalau saya dah mulai caci maki karena ada orang yang menyebalkan, dia pasti bilang "keun weh atuh bun, kalau nyebelin, simple, diemin aja" katanya.

dendam kesumat ini khususnya sama beberapa teman yang dulu ada di SMA *ok kita flashback*
Tepatnya waktu saya kelas satu SMA, hemmm kayanya ga usah saya sebutin nama-namanya lah ya, ga usah juga saya ceritain lengkapnya. Intinya saya sudah melupakan betapa menyakitkannya "ditinggal" dan "dibuang" justru oleh sesuatu yang awalnya sangat mereka setujui, bahkan mereka yang merekomendasikan, alih-alih menolong atau sedikitnya menemani, mereka malah dengan asyiknya bergosip dan bergunjing tentang saya mengenai hal-hal yang semuanya tidak benar. fyuuuh jaman SMA tuh jaman paling busuk yang pernah saya lewati.
ingin rasanya teriak, ngomong membabi buta sama mereka, tapi buat apa? toh saya pun tidak ingin membuktikan pembenaran atas diri saya, apa peduli mereka?karena saya sadar, mereka bukan teman, hanya berlaga sebagai seorang teman. teman saya kelas satu itu hanya rika rachmawati, hai ricka :) cum dulu ah heheheh...

iya, ingatan tentang perlakuan menyakitkan itu saya bawa sampai saya menikah, bila melihat nama mereka saja, darah ini seperti mendidih, panas, benci rasanya. suatu saat salah satu dari mereka add pin bb saya, kaget sekaligus muak saya tumpahkan unek-unek pada suami, suami hanya bilang "udah lah bun, itu dulu, toh mungkin mereka ga sadar" trus saya bilang " bunda cuma penasaran, kenapa mereka segitu jahatnya sama bunda?kenapa ko fitnah? bunda pengen penjelasan, bunda pengen jelasin unek-unek bunda" trus suami bilang "kalau udah ngejelasin trus dapet penjelasan,trus apa?" katanya "ya udah, bunda tenang, udah terjawab" "kalau terjawab, kalau malah jadi permusuhan?udah coba memaafkan sayang, dendam itu ga baik, dendam itu bikin cape, coba maafin, lebih tenang pastinya"
selain ngobrol sama suami, saya juga curhat sama salah satu teman baik saya yaitu sari, hai sari *dadah2 hahahah... sari juga bilang hampir sama kaya suami "udah lah han, coba maafin aja, cape kalau dipikirin terus"

akhirnya saya mencoba "memaafkan" mereka walaupun mereka tidak minta maaf, dan tau hasilnya?saya lebih bahagia, lebih tenang, lebih menikmati hidup, ga ada rasanya tersakiti lagi, ga ada rasanya keinginan meminta penjelasan dan menjelaskan, clear...clear...

selama kehidupan ini kita pasti ga terhindar dari gesekan dan konflik sama orang lain kayanya, dari konflik yang ringan sampe yang berat. kalau ada orang yang nyebelin, entah itu dikehidupan nyata (tinggal dijauhin atau ga ditanggep) atau di fb, bb, dan twitter(tinggal di delete or block)selesaiiii, sesimple itu :) semudah itu, kata ayah "kalau ga suka, ga usah dipikirin, cape amat kita mikirin orang nyebelin, anggap aja ga ada" katanya hihihhi dan itu adalah saran yang ngefek banget sama saya.

nah, sakit yang berbekas itu selama saya sekolah sampai kuliah ya cuma itu, waktu SMA kelas satu, sisanya ya biasalah ya anak muda heheheh...
nah setelah kerja, pastilah ketemu orang-orang yang "ajib" juga, tapi ga ada yang "gores" hati saya...
paling cuma satu setelah saya punya anak, itu pun ga anggap saya sesuatu yang harus bikin dendam.
yap, ini terjadi sama sesama ibu-ibu muda yang baru punya anak. Saya dan beliau ini mencoba berteman dengan sering sharing soal apapun. Menyenangkan, walaupun memang kita ga terlalu deket.

semenjak saya berumah tangga dan hamil, saya tau gimana beratnya, gimana rasanya melewati awal-awal kehidupan menjadi ibu baru, apalagi dulu saya tinggal dikota tanpa sanak saudara dan semua serba dihandle sendiri (dengan bantuan suami tentunya). karena saya ini termasuk orang yang cerewet dan bawaannya tuh suka pengen nolongin orang, akhirnya saya sering bertukar pikiran (bertukar pikiran loh ya, bukan ngajarin) tentang apapun, tentang melahirkan, tentang keuangan, tentang asi, tentang apapun. karena saya pun sangat terbantu dari buku dan orang-orang baik yang dengan kerendahan hati dan kebaikannya sering memberikan ilmu-ilmu baru dan masukan-masukan tanpa meminta timbal baik alias gratis, aaah kalian hebat :*

nah dengan ibu baru yang satu orang ini,  saya juga sering sharing, mengenai anak, keuangan dan usaha. memang kata-katanya kadang ada yang ga enak, tapi entahlah ya mungkin perasaan saya aja.
satu tahun yang lalu dia minta saya membantu untuk mengirimkan contoh penyusunan perencanaan keuangan, karena saya hanya punya perencanaan milik saya sendiri, ya saya buat lagi yang baru, saya  buat sekitar setengah jam-an, lalu saya kirim. nah seminggu kemudian ada temen saya juga yang minta, kebetulan data yang ada disaya terdelete, akhirnya saya minta ke ibu muda ini "bisa dikirim balik ga file keuangan yang minggu kemaren hana kirim, ada temen yang minta juga" dia jawab "duh maaf na udah didelete, ga disave" hemmm ada 2 pemikiran saya pada saat itu, mungkin file yang saya buat itu jelek dan ga kepake sama dia (it's ok by the way) atau pas kemaren dia minta file tuh cuma buat ngetes saya aja?saya sebenernya bisa apa engga? soalnya aneh aja, dia minta tolong minta dibuatin, pas dikirim malah didelete dan ga disave hemmm jadi buat apa minta? ah saya masih mikir positif aja toh saya maunya berteman.

yang ke dua saat beliau meminta tolong untuk "berbisnis" bareng, Dulu dijambi saya usah pakaian anak-anak murah, muraaaah banget. nah, dia minta dikirim barangnya, trus dia transfer uangnya. Sebetulnya stock pada saat itu menipis banget, tapi karena beliau minta tolong, ya saya iya kan dengan menunda orderan untuk orang lain, toh niat saya nolong, bukan untuk jualan, malah saya sharing cara-cara usahanya dan apa aja yang harus dilakukan?poloskah saya? hemmm engga lah, saya niat nolong ko.
nah setelah barang sampai dia bilang "duh na, ternyata disini ada yang murah, trus jualanya gimana nih, duh ini, duh itu, duh blabla" sebenernya saya mau bilang gini "jalanin aja dulu, cobain aja, toh rezeki mah ga akan ketuker, banyak ko penjual-penjual yang jualan barang yang sama, sebelah-sebelahan, ada yang lebih murah atau lebih mahal tapi tetep aja ada yang beli kan?" ya tapi dibanding saya mengecewakan beliau dan beliau merasa dirugikan saya bilang "ya udah gpp, balikin lagi aja barangnya, nanti uangnya saya transfer balik" hahahah niat bantuin, saya malah yang jadi merasa hemmm apa ya?jadi ribet sendiri gitu, orderan untuk orang lain ditunda, cape-cape pilihin barang, tapi akhirnya gini, ya gpp deh. klo profesionalnya sih, ga mungkin kayanya bisa retur barang cuman gara-gara, "disini ada yang lebih murah" hemmm gpp lah toh dia bukan rekan bisnis, saya menganggapnya teman. Tapi disini saya bisa melihat tanggungjawab dan kredibilitasnya kan?

yang terakhir dan yang bikin saya bilang "ok! DONE" saat itu saya sharing gimana caranya ko neisha akhir-akhir ini banyak makan, saya bilang, "iya bikin sop, tambahin garem dikit sama merica" trus dia bilang (dengan nada mengintimidasi atau mungkin perasaan saya aja kali ya heheh) "loh ko pake merica sih, emang boleh?kan belum boleh anak umur segitu" trus saya jawab "oh emang kata siapa ga bisa?" (dengan maksud bertanya dan pengen tau, kali aja emang saya salah) eh dia salah paham, dia bilang "eh ko jawabnya gitu sih na, santai aja, emang lah saya mah ga sepinter hana, apa-apa tau, maafin kalau gitu?" (kurang lebih begitu isi bbmnya) DUAAAAAARRRR!!!pecah sudah pertahanan saya, selama ini saya dengan senang hati berbagi ilmu dan sharing mengenai apapun dengan maksud saling membantu ternyata dianggap (Orang yang Merasa Pintar) haduh sedih... yap, 3 kejadian itu cukup membuat saya memutuskan untuk tidak berteman, ya bukan musuh juga, tapi cukup hanya saling kenal lah. awal-awal saya sempat emosi tapi seperti biasa suami yang membuka hati saya lebar-lebar. Saya tetap ingin berteman dan berhubungan baik dengan beliau tanpa "gesekan" lagi tentunya, karena terlepas dali kesalahpahaman dan prilakunya, beliau adalah orang yang baik dan sangat ramah :) berteman bukan bersahabat nampaknya sudah cukup, untuk menghindari kesalahpahaman lagi.

Saya Hana Isyana Utiara yang penuh sifat menyebalkan ini juga dengan kerendahan hati memohon maaf pada semua teman-teman yang mungkin selama ini tersakiti oleh sikap dan kata-kata saya, mohon maaf sebesar-besarnya. mungkin pada saat itu saya ga menyadari saya pernah menyakiti kalian. seperti halnya teman yang telah menyakiti hati saya, mungkin ngga menyadari mereka telah menyakiti saya. sumpah demi Allah, saya memaafkan kalian tanpa perlu kalian meminta maaf dan saya memohon maaf sekali lagi kepada teman-teman yang secara sadar ataupun tidak sadar ternyata merasa tersakiti oleh saya.... pliiis pliiis maafin ya, yaaaaaa ;*

*btw banyak temen-temen yang ngirim email dan bbm katanya ga bisa ngirim komentar langsung yang diblog?hemmm kenapa ya?ntar coba diutak-atik dulu deh ya :*