Jumat, 21 Oktober 2016

P A P A

Pria sederhana dengan hati yang sangat kaya.

Papa, begitu kami semua memanggilnya, enggan dipanggil kakek oleh cucu nya sekalipun...
Allah sungguh maha baik ketika mentakdirkan dirinya menjadi ayahku, kakek untuk anak-anakku. Seumur hidupku, pria ini tak pernah sekalipun mengecewakan ku, malah sebaliknya :( 

Dear papa yang sangat aku banggakan, sungguh aku baru menyadari, cerewet dan aturan yang selalu aku keluhkan saat remaja dulu itu adalah tanda pedulimu, tanda kasih sayangmu.
Dari kecil sampai dewasa dan berkeluarga sekarang ini, rasa peduli mu tak berkurang sedikit pun, entah apa jadinya tanpa kehadiran mu papa. 

Pria ini yg setiap subuh sudah ikut sibuk menyiapkan anakku yang sulung berangkat sekolah. Ia pula yg setiap harinya, tepat jam dua siang sudah siap menunggu kedatangan cucunya didepan rumah, padahal mobil jemputan cucunya biasa datang jam setengah tiga siang, tak ingin terlambat katanya.

Siang itu hujan turun cukup deras, tepat jam dua siang ia telah siap siaga mondar mandir didepan pintu pagar sambil membawa payung, "pah masuk, tunggu didalem rumah aja" kataku
"Engga ah, takut neisha keujanan" katanya :')

Ya begitulah, cucunya selalu disambut tepat waktu, tangannya sudah sigap menyambut bahkan sebelum cucunya sempat membuka pintu jemputan.

Neisha dan zura, anak-anak gadisku ini sangat dekat dengan kakeknya, sangat lengket. Tak jarang aku melihat papa ikut tertidur ketika me-ninabobo-kan cucu-cucunya ini.


Tak jarang pula ia sampai mengurusi hal-hal remeh seperti menyisir rambut atau memotong kuku dua gadis cilik ini. Luar biasanya, tak satu pun hal ini yang aku atau cucu-cucunya minta, ia lakukan karna keinginannya sendiri, karna peduli.

"Biar sama papa" kata-kata ini yang sering ia ucapkan, bagai mantra bagi ku, karna setiap kata itu terucap, semua urusan beres. Aaah terlalu banyak aku merepotkannya, mulai dari saat aku hamil, melahirkan, ikut mengurus ketika cucu-cucunya sakit, antar sana sini, sampai urusan akte kelahiran ibra pun (anakku yang ketiga) papa yang urus dan itu semua tanpa diminta, "sini sama papa, sambil papa jalan-jalan" katanya, anehnya ia tak merasa direpotkan, Terima kasih ya pah. 

Maaf atas abai ku akan keberadaan mu dulu, sungguh aku khilaf ketika sosok mu ku anggap "hanya" dibandingkan mamah. Mamah mamah mamah, aku ketergantungan padanya dulu dan menjadikan mu hanya pelengkap, Maaf ya pah...

"Laki-laki itu semua sama" kalimat ini yang sering orang ucapkan untuk meng-amin-i bahwa laki-laki itu memang diciptakan sebagai sosok berengsek, sulit setia, dll.
Ah tapi tidak dengan ayahku, dia beda, laki-laki setia yg didalam hidupnya hanya pernah berpacaran dengan satu wanita dan wanita itu adalah alm ibuku. Ya, mamah adalah wanita pertama dan terakhir untuk papa :')
Papa adalah sosok pria yang penyayang dan sangat peduli, walau jauh dari kata romantis. 
Aku percaya bahwa laki-laki itu tak semuanya sama, ada segelintir laki-laki "aneh" yang tidak berengsek, setia dan sayang keluarga, seperti papaku, mudah-mudahan suamiku adalah salah satu dari laki-laki "aneh" itu sehingga suatu hari kelak ia akan sangat dibanggakan oleh anak-anaknya, aaamiin...

Sehat terus ya pah, we love you so much...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar